ALLAH AKAN MENGERJAKANNYA BAGIKU...
Hari sudah menjelang fajar, tetapi saya masih terlelap bahkan terbawa dalam mimpi. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 04.15, ketika saya terbangun kaget dari mimpi. Waduh...keenakan tidur malah sampai mimpi di waktu fajar...
Saya bermimpi bertemu almarhum bapakku, bpk Clemens Kolo, dalam suatu perayaan Misa di paroki asal saya, paroki St. Martinus Ruto, Ngada, NTT. Dalam misa itu, ketika hampir tiba giliran bacaan kedua, bapak meminta saya untuk tampil membawakan bacaan kedua yang ia pilihkan. Bapak memberi saya bacaan dari Filipi 2, namun bahasanya sangat aneh dan sulit saya mengerti. Sehingga saya membacanya dengan tersendat-sendat, dan mengganggu jalannya perayaan misa. Romo yang memimpin misa pun sampai kebingungan, tetapi dia tidak menegur saya. Tetapi pada bagian akhir, yang saya ingat hanyalah kutipan dari Filipi 2:13 yang saya juga tidak tahu persis isinya. Saya lalu membuka Kitab Suci dan membacanya “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Saya juga tidak tahu mengapa mengapa harus ayat ini. Ini yang masih menjadi pertanyaan saya hingga saya menuliskan di blog ini….
Ketika terbangun, saya langsung ambil bantal dan pindah dari kamar tidur saya (bersama istri dan anak saya Maurin usia 36 hari). Saya pindah ke depan computer/TV, saya berdoa sejenak untuk bapak. Lalu saya tidur lagi menunggu pukul 05.00 pagi untuk bangun dan mencuci popok anak saya yang sudah saya rendam semalam sebelum tidur.
Saya juga mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada mama saya di Aimere, untuk membakar lilin di makam bapak.
Kini, kembali ke pesan bacaan Filipi 2:13 di atas. Saya coba merenung-renungkan maksud yang terkandung dalam bacaan di atas. Saya menjadi teringat, sekurang-kurangnya ada dua alasan mimpi ini terjadi (yang menurut para ahli, selain sebagai bunga tidur, juga karena terjadi sesuatu dalam alam bawah sadar saya). Alasan pertama, pada bulan September ini, ada dua moment yang berkaitan dengan bapak saya, tanggal 1 September adalah peringatan 15 bulan meninggalnya, dan tanggal 8 September adalah hari ulang tahunnya. Pada kedua tanggal itu, saya hanya berdoa singkat dan itupun dalam hati. Saya selalu mengingat setiap tanggal yang berhubungan dengan bapak, dan setiap tanggal itu, saya biasanya berdoa singkat saja. Pada tanggal 8 September yang lalu, saya malah tidak berdoa untuk ulang tahunnya, tetapi saya memintanya untuk membantu saya dalam doa, agar saya bisa mendapat pekerjaan sampingan atau proyek tertentu di luar kerja utama saya sebagai editor atau proyek yang berhubungan dengan bidang saya sebagai editor. Saya memohon bantuan doa bapak sambil mengeluh bahwa utang hidup saya makin banyak, pinjaman untuk pulang waktu bapak sakit dan meninggal saja belum dilunasi, masih disusul dengan utang untuk menikah (karena saya nekat menikah tanpa melewati proses adat, sesuai kebiasaan kami di Flores dan Sumba) secara gerejani. Karena saya mengambil jalan pintas, maka otomatis segalanya harus diurus sendiri secara mandiri. Lalu kini, ditambah utang istri melahirkan (yang ini dipotong langsung dari kantor tempat kerja saya sebanyak 6 kali gaji). Dalam doa batin itu, saya mendesak-desak bapak untuk membantu dengan doanya, karena saya percaya orang yang meninggal lebih dekat dengan Tuhan. Hal ini bukan berarti saya hanya mengandalkan bantuan “gaib” orang yang sudah meninggal, tetapi karena saya percaya orang yang kita kasihi, meski sudah meninggal, selalu ada dan dekat dengan kita.
Alasan kedua, beberapa waktu lalu seorang teman meminta bantuan saya untuk mencetak kalendernya sebanyak 7500 eksemplar. Saya sudah menyanggupi dan mencari percetakan yang bisa diajak kerjasama. Dari jasa itu, oleh percetakan saya dijanjikan diskonnya sebanyak 20% plus Rp 100 per eksemplar. Ya, lumayanlah, paling kurang bisa untuk mencicil utang sekaligus untuk modal bagi asuransi pendidikan anak yang sudah kami rencanakan. Tetapi, sampai dengan saya menulis kisah ini, tidak ada konfirmasi darinya tentang jadi tidaknya, atau mungkin sudah diberikan kepada orang lain. Saya memang tidak terlalu mempersoalkannya, tetapi ternyata di alam bawah sadar saya, hal ini menjadi pergolakan yang luar biasa, di satu pihak saya sangat berharap si teman memberikan pekerjaan itu pada saya, sehingga saya bisa mendapt komisi, tetapi di sisi yang lain, saya sadar namanya juga tawaran ya bisa jadi, bisa juga tidak. Sekali lagi......namanya juga rejeki, tidak selalu mudah diperoleh. Mungkin kali ini belum waktunya saya mendapatkan sesuatu dari “jasa” saya.
Sebagai seorang anak yang cukup dekat dan sangat mencintai bapak saya (terlepas segala kekurangannya selam hidup), almarhum bapak bisa merasakan gejolak pergulatan hati saya. Lalu, dia memberikan saya bacaan dari surat Paulus kepada jemaat di Filipi: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:13). Maksud bacaan ini sangat jelas...bahwa saya jangan terlalu cemas dengan situasi hidup saya, meski kekurangan harus mampu bersyukur dan berharap pada-Nya. Saya dimohon untuk percaya dan selalu penuh syukur untuk melihat hidup saya dengan hikmat iman, bahwa Allahlah yang akan mengerjakan di dalamku, baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Jadi saya jangan terlalu memaksa Allah untuk mengabulkan permohonan saya... Allah akan menggenapinya pada waktu yang tepat...
Saya sangat berterima kasih kepada bapak yang telah menunjukkan pada saya satu nilai iman yang tak terkira, Allahlah yang mempunyai pekerjaan, dan Dia pula yang berhak memberikannya kepadaku atau tidak. Terima kasih bapak atas pengalaman iman (mengingatkan saya akan pengalaman mimpi Santo Yusuf ketika kebingungan menghadapi bunda Maria yang sudah mengandung, maupun ketika harus berhadapan dengan ancaman Herodes) yang kau berikan tadi pagi....
Percikan dan pengalaman iman ini saya tulis dan bagikan kepada Anda, dengan maksud ingin sharing bersama Anda. Saya menjadi sangat lega dan sukacita setelah bisa menuliskan kisah yang meneteramkan dan membahagiakan hati saya.
Sekali lagi bapak, itulah cintamu kepadaku, tiada harta yang lebih berharga selain kehadiran dan pemberian (bacaan suci) yang penuh makna itu. Doakanlah kami selalu dari Surga.
Kepada pembaca, terima kasih atas kesediaan Anda untuk membaca pengalaman saya ini. Tanggapan Anda akan semakin menguatkan iman saya.
Alfred B. Jogo Ena
http://alfredobenjogoena.blogspot.com
http://albento.multiply.com
Senin, 15 September 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
