Kebaikan Allah
“…Hanya dengan hatilah kita dapat melihat secara tepat apa yang terpenting yang tidak terlihat oleh mata” (Antoine de Saint Exupery/The Little Prince)
“…Hanya dengan hatilah kita dapat melihat secara tepat apa yang terpenting yang tidak terlihat oleh mata” (Antoine de Saint Exupery/The Little Prince)
Dalam suatu kesempatan discernment untuk mengajukan lamaran kaul kekal, saya pernah mendapat sebuah surat dari seorang teman discerment. Di awal surat dia selalu memuji-muji saya setinggi langit. Tetapi lama kelamaan dan di kasih dalam kurung, kata-katanya menyentak saya. Saya berusaha terus membacanya perlahan-lahan dengan hati tenang dan pikiran jernih: “.........Tetapi kamu seringkali juga memaksakan pikiran dan kehendakmu. Kamu menuntut harus ini, harus itu. Yang jelas menuntut seperti apa pikiran dan kehendakmu wah…kacau balau. Kalau pinjam istilah dari filsafat struk-turalis, masing-masing keadaan, orang punya strukturnya sendiri-sendiri. Hargailah itu. Menuntut boleh saja, tapi harus mau dituntut. Selain itu kurasakan kamu selalu melihat dan mengomentari sesuatu dari perspektif negatif, “kaca gelap”. Lha ini membuat selalu tidak puas & menuntut tadi mungkin baik kalau meminjam istilah moral “Maius bonum”. Seringlah melihat kebaikan-kebaikan. Ada peribahasa mungkin bisa mengungkapkan ini, “Kuman di seberang laut tampak, gajah di depan mata tidak tampak!”
Setelah membaca surat itu...saya sempat menitikkan air mata. Ini sebuah penilaian yang jujur...suatu penilaian yang dilakukan dengan hati. Justru karena dia ingin menolong saya. Dibalik kata-katanya yang terasa kasar itu...dia membukakan hati saya untuk menerima dan melihat segala sesuatu dengan hati. Melihat secara positif dari kedalaman hati. Dialah satu-satunya teman yang berani menulis semuanya itu secara jujur pada saya....Terima kasih teman, dengan surat itu, kamu menegur aku dari hatimu..... Surat itu, membantu saya untuk lebih jujur melihat diri saya di hadapan yang lain. Saya tidak pernah ada sendirian, tetapi selalu bersama dengan yang lain. Maka untuk menjaga keutuhan kebersamaan itu, saya perlu berusaha untuk mendengarkan orang lain dengan jujur dan hati bening...Saya tidak lebih pintar atau lebih baik tanpa ada yang lain. Kebaikan, kejujuran, kepintaran itu korelatif. Artinya terjadi hanya dalam dan dengan relasi bersama orang lain.
Dalam hidup kita sebagai makhluk ciptaan Allah, kita perlu “memaksa diri” untuk selalu melihat kebaikan-kebaikan Allah yang tiada taranya yang dianugerahkan kepada kita. Mari dan berusahalah selalu untuk melihat hal-hal baik yang ada di sekitar kita...dan yang terpenting bersyukurlah senantiasa atas semua kebaikan Allah itu.
Ya Tuhan mahabaik.
Dalam segala kebaikan, kadang Engkau menyatakan diri
padaku melalui cara manusiai.
Tetapi aku sering buta untuk menyadari kebaikanMu
yang tiada tara pada hidupku.
“Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya,
bagi mereka yang bersih hatinya.
(Mzm 73:1)
“Tuhan, supaya mata kami dapat melihat”
(Mat 20:33)
