Jumat, 20 Juni 2008

Kebaikan Allah

“…Hanya dengan hatilah kita dapat melihat secara tepat apa yang terpenting yang tidak terlihat oleh mata” (Antoine de Saint Exupery/The Little Prince)



Dalam suatu kesempatan discernment untuk mengajukan lamaran kaul kekal, saya pernah mendapat sebuah surat dari seorang teman discerment. Di awal surat dia selalu memuji-muji saya setinggi langit. Tetapi lama kelamaan dan di kasih dalam kurung, kata-katanya menyentak saya. Saya berusaha terus membacanya perlahan-lahan dengan hati tenang dan pikiran jernih: “.........Tetapi kamu seringkali juga memaksakan pikiran dan kehendakmu. Kamu menuntut harus ini, harus itu. Yang jelas menuntut seperti apa pikiran dan kehendakmu wah…kacau balau. Kalau pinjam istilah dari filsafat struk-turalis, masing-masing keadaan, orang punya strukturnya sendiri-sendiri. Hargailah itu. Menuntut boleh saja, tapi harus mau dituntut. Selain itu kurasakan kamu selalu melihat dan mengomentari sesuatu dari perspektif negatif, “kaca gelap”. Lha ini membuat selalu tidak puas & menuntut tadi mungkin baik kalau meminjam istilah moral “Maius bonum”. Seringlah melihat kebaikan-kebaikan. Ada peribahasa mungkin bisa mengungkapkan ini, “Kuman di seberang laut tampak, gajah di depan mata tidak tampak!”

Setelah membaca surat itu...saya sempat menitikkan air mata. Ini sebuah penilaian yang jujur...suatu penilaian yang dilakukan dengan hati. Justru karena dia ingin menolong saya. Dibalik kata-katanya yang terasa kasar itu...dia membukakan hati saya untuk menerima dan melihat segala sesuatu dengan hati. Melihat secara positif dari kedalaman hati. Dialah satu-satunya teman yang berani menulis semuanya itu secara jujur pada saya....Terima kasih teman, dengan surat itu, kamu menegur aku dari hatimu..... Surat itu, membantu saya untuk lebih jujur melihat diri saya di hadapan yang lain. Saya tidak pernah ada sendirian, tetapi selalu bersama dengan yang lain. Maka untuk menjaga keutuhan kebersamaan itu, saya perlu berusaha untuk mendengarkan orang lain dengan jujur dan hati bening...Saya tidak lebih pintar atau lebih baik tanpa ada yang lain. Kebaikan, kejujuran, kepintaran itu korelatif. Artinya terjadi hanya dalam dan dengan relasi bersama orang lain.

Dalam hidup kita sebagai makhluk ciptaan Allah, kita perlu “memaksa diri” untuk selalu melihat kebaikan-kebaikan Allah yang tiada taranya yang dianugerahkan kepada kita. Mari dan berusahalah selalu untuk melihat hal-hal baik yang ada di sekitar kita...dan yang terpenting bersyukurlah senantiasa atas semua kebaikan Allah itu.


Ya Tuhan mahabaik.
Dalam segala kebaikan, kadang Engkau menyatakan diri
padaku melalui cara manusiai.
Tetapi aku sering buta untuk menyadari kebaikanMu
yang tiada tara pada hidupku.

“Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya,
bagi mereka yang bersih hatinya.
(Mzm 73:1)

“Tuhan, supaya mata kami dapat melihat”
(Mat 20:33)


Rabu, 18 Juni 2008

Serial Makin Bijak

Indahnya Kehidupan

“Hati yang terbuka akan menjadi tempat berdiam Tuhan untuk membimbing dan menjadikan diri kita berani dalam menghadapi semua krisis kehidupan” (Alberto A. Djono Moi)


Irama hidup setiap hari, dari pagi hingga malam, menghantar kita pada lingkaran harapan, iman dan cinta. Hari terus berganti hari dan terus berlalu dengan pasti. Minggu berubah minggu tak terasa kian menuju bulan yang berganti bulan sehingga mendekati tahun berganti tahun. Tak terasa. Semuanya berlalu dengan pasti. Tak terasa kita juga berlalu bersama hari, minggu, bulan dan tahun yang kian membuat kita terpana akan arti sebuah kesabaran ketika sedang menjalani sebuah rutinitas. Ya sebuah rutinitas yang membawa kita untuk berlalu bersama siang dan malam yang saling berpapasan secara teratur, meski tak pernah bisa disatukan. Siapa yang bisa menyatukan siang dan malam? Keduanya berlalu pasti menjalankan tugasnya, tak pernah lelah apalagi bosan. Siang terus berganti malam, malam berganti siang, begitu seterusnya.

Dalam rutinitas yang demikian, kadang membuat kita kurang membuka mata dan hati untuk melihat “KEINDAHAN.” Dalam rutinitas yang demikian, seharusnya hati kita selalu terbuka untuk menerima dan terus menerima kehadiran Sang Keindahan. Dan karena sudah rutin, hati kita menjadi mengeras untuk terlatih dan terbiasa menerima sesuatu yang tidak rutin.

Ketika aneka bencana terus melanda bangsa ini, ada aneka reaksi positif dan negatif yang kita perlihatkan. Tapi apakah kita membuka hati untuk semakin membiarkan Tuhan berkarya dan membimbing kita untuk “mencapai” (=memahami) bimbinganNya? Alangkah indahnya, kalau hati kita selalu terbuka bagiNya, bukan saja menanti sesuatu secara rutin dan biasa-biasa saja.


Ya Tuhan...aku sering bosan dengan hal-hal yang rutin.
Aku merasa sudah kewajibanku untuk menjalaninya.
Aku merasa sudah kewajibanMu untuk memberiku hidup.
Aku sering kurang peka dan membiarkan kasihMu
menuntun setiap langkahku menuju padaMu.


“Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan,
Sebab hanya namaNya saja yang tinggi luhur,
keagunganNya mengatasi bumi dan langit”
(Mzm 148:13)

“Takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatang hikmat,
dan kerendahan hati mendahului kehormatan” (Ams 15:33)

Selasa, 17 Juni 2008

Serial Makin Bijak

Doa Yang Jujur

“Doa lebih banyak menuntut hati daripada lidah” (Adam Clarke)


Pada suatu kesempatan seorang adik kelas bertanya pada saya, “Kak, tadi pagi sudah ke Gereja?” “Sudah”, jawab saya. Malah, tadi waktu mau berangkat kuliah, saya lewat di depan gereja, jawabku lebih lanjut. “Bukan itu maksudku, Kak Alfred,” “Apa tadi pagi kak sudah ikut misa?” jelasnya. “Oh...itu toh maksudmu?” “Belum, eh tidak.” “Wah payah, katanya mau jadi calon pastor, kok malas sekali ikut perayaan ekaristi,” jelasnya seakan-akan mengejekku.

“Betul, dik, menjadi pastor itu memang harus rajin berdoa/misa. Karena tugas utamanya nanti adalah membuat misa. Tetapi saya harus jujur pada diri saya sendiri bahwa orang (saya) melakukan sesuatu harus bertolak dari kesadaran hatinya yang mendalam, bukan hanya demi rutinitas atau demi credit point sebagai seorang calon imam. Saya memang tidak ada persiapan untuk misa. Maka lebih baik saya tidak ikut. Percuma raga saya hadir dalam misa tapi roh dan hati saya tidak di sana,” kata saya memberikan alasan tidak ikut misa.

Segala sesuatu memang bisa saya lakukan. Tapi apakah itu dilakukan dengan sepenuh hati atau sekadar saja demi tuntutan rutinitas dan tuntutan sebagai calon pastor maka harus ikut misa. Pemahaman semacam ini kadang menjadi justifikasi diri agar kalau tidak siap maka tidak harus ikut, atau demi suatu rutinitas maka apapun keadaanku, maka aku harus menjalaninya meski tanpa makna berarti bagi hidupku.

Doa adalah ungkapan relasi mendalam seseorang dengan Tuhan yang diyakininya. Dan tingkat kemendalaman itu bagi setiap orang berbeda-beda. Sekali lagi, doa menuntut kualitas relasi, bukan kuantitas tanpa makna. Bagaimana kita menentukan kualitas relasi itu? Setiap orang punya dinamika dan disposisi batin yang berbeda, hanya dia sendiri yang tahu kualitas relasinya dengan Allah. Maka sekalipun doa itu dijalankan dalam kebersamaan, seperti perayaan ekaristi, toh...kita sendirilah yang tahu mutu kedalaman relasi kita dengan Allah.



Ya Tuhan, betapa dunia ini penuh dengan tipu muslihat
dan aku seringkali jatuh dalam dunia yang demikian.
Bantulah aku untuk senantiasa berani melawan
segala tipu muslihat,
segala tawaran menggiurkan dari dunia ini
dan sepenuhnya percaya padaMu
sepenuhnya jujur padaMu
sepenuhnya menjadi milikMu.

“TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” (1Sam 1:11)

Senin, 16 Juni 2008

Serial Makin BIjak

Iman yang menuntun Budi

“Saya tidak berusaha mengerti apa yang saya percayai, tetapi saya percaya agar saya mengerti” (Anselmus dari Canterbury)



Pernah suatu ketika, sore hari pada tahun 1997, saat saya sedang bergulat dengan pelajaran Kosmologi, saya hampir putus asa karena tidak segera mengerti apa yang dipelajari. Sudah 2,5 jam saya belajar, tapi tak satu pun yang saya pahami. Ah…mau jadi imam saja belajarnya sulit, bagaimana menjelaskan Tuhan kepada umat? Ternyata mencampur-adukkan antara iman dan pengetahuan membuatku stress. Dalam keadaan stress, saya tinggalkan bahan kuliah kosmologi. Lalu saya berdoa demikian:

Bapa Pencipta dan Penyelenggara alam semesta cinta-Mu padaku abadi selamanya. Aku Kau temukan apa adanya dan Kau limpahkan berkat tiada taranya. Namun Bapa, aku terlalu sombong untuk sadar diri aku terlalu angkuh untuk rendah hati aku terlalu sering ingkar janji. Pagi ini, dalam ruang kapel sunyi Kau menyapaku, Kau sentuh hati ini agar aku belajar pasrah diri di ribaan ilahi. Melalui simbol cecak dan nyamuk Kau tegur aku Kau rengkuh aku bangun lagi menata diri meraih rasa hormat dan cinta membawa kasih dan bakti dalam hidupku nyata.

Bapa...Kau telah menuntunku belajar pada sesama ciptaan-Mu. Kau kuatkan aku yang selalu lemah untuk berani mengakui dan menerima diriku apa adanya juga pada sesamaku tiada pamrih tanpa tuntutan lebih di luar kemampuanku untuk melakukannya. Termasuk tuntunanMu agar aku tidak berusaha memahamiMu tetapi berusaha mengimaniMu sepenuh hatiku. Bapa bantulah aku agar kuat selalu dalam belajar rendah hati dan menaruh sikap percaya pada yang lain, terutama padaMu. Bantulah aku bersikap percaya dan hormat pada sesamaku sebagaimana aku selalu mengakui menerima dan percaya pada-Mu dengan segenap hati. Bapa sertailah dan kuarkanlah aku untuk bisa percaya pada sesamaku dan padaMu. Amin.

Kembali ke kamar tidur, saya tidak lagi belajar tetapi membuat sebuah kesimpulan berikut: Saat kita tak berdaya, termasuk tak mengerti sesuatu apapun, kita hanya bisa berserah diri pada Tuhan. Namun berserah bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Tapi sejenak mengheningkan diri, lalu memulai sesuatu secara baru, dan dapat memahami secara baru yang tidak saya pahami. Benar...ketika bangun pagi....sebelum berangkat misa pagi...saya mulai memahami (meski tidak semuanya jelas) apa yang kupelajari semalam selama 2,5 jam.

Kita, paling kurang saya sendiri, seringkali memaksakan diri untuk memahami segala sesuatu. Padahal kemampuan manusiawi kita terbatas, kesanggupan budi ada masanya. Kekuatan manusiawi ada akhirnya. Pengalaman saya di atas mengajarkan saya untuk lebih rendah hati dan terbuka di hadapan Allah, bahwa tidak semua hal bisa dipahami dalam waktu sekejep. Bagaimanapun pintar dan hebatnya seseorang, ia juga mengalami keterbatasan. Sejago-jagonya seorang petinju kelas dunia, toh akan tiba masanya dia mengalami kejatuhan, kedigdayaan akan diganti dengan kekalahan, keperkasaan akan diganti dengan kelelahan dan kelemahan baik jiwa maupun raganya. Atau, sehebat-hebatnya seorang Ronaldo dan Ronaldinho menggocek dan menceploskan bola di gawang lawan, akan tiba masanya, mereka tidak bisa menceploskan bola ke gawang lawan.

Dalam keterbatasan manusiawi, kita semesetinya terbuka pada kehendak Allah sendiri. Dan....biarlah keterbatasan itu dilengkapi oleh Allah sendiri. Ia akan senantiasa mengisi ketebatasan kita, asalkan kita senantiasa juga siap membuka hati dan siap menerima Dia, kapan dan dimana saja.



Ya Tuhan, kadang aku terlalu mengandalkan budi
untuk beriman padaMu.
Padahal, yang Engkau tuntut adalah hati
yang senantiasa menaruh harapan padaMu.
Tuhan, bantulah aku agar mampu
menggunakan akal budiku secara baik dan bertanggungjawab
juga dalam menyatakan kesetiaanku kepadaMu.


“Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya,
orang berpengertian berkepala dingin.
Orang bodoh akan disangka bijak,
kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian
kalau ia mengatupkan bibirnya”
(Ams 17:27-28)

“Tidak ada seorangpun yang berakal budi,
tidak ada seorangpun yang mencari Allah” (Rm 3:12)