Selasa, 27 Mei 2008

Aids dan Solidaritas Kristiani

AIDS DAN SOLIDARITAS KRISTIANI

Lunglai terkapar badan itu,
Lemas tergeletak tak berdaya
Bersama sisa-sisa harapan yang kuatkan tekad
Untuk tetap hidup normal dalam kasih dan perhatian



Beberapa hari ini saya sedang mengedit sebuah naskah yang ditulis oleh P. Lambertus Somar, MSC berjudul, “Merawat Penderita AIDS di Rumah”. Membaca naskah itu - yang ditulis oleh seorang Pastor yang terlibat aktif dalam Yayasan Kasih Mulia, sebuah Lembaga yang bergerak dalam program-program penyuluhan bagi anak-anak dan orangtua serta program-program rehabilitasi - membuat saya terkenang akan sebuah pengalaman pendampingan lintasagama dalam sebuah workshop beberapa tahun lalu di Ashram Gedong Gandhi, Candi Dasa, Bali. Dalam suatu kesempatan kami menghadirkan seorang penderita AIDS dan mendengarkan kisahnya. Kisah yang pernah disampaikan sekian tahun lalu itu menggugah saya untuk menulis permenungan berikut ini dan men-share-kannya kepada Anda. Sebelumnya, perlu saya tegaskan disini, pengalaman penderita AIDS hanyalah salah satu dari aneka pengalaman lain dalam masyarakat, khususnya dengan kenaikan BBM (dan kebutuhan hidup lainnya), saya yakin makin banyak persoalan yang menggugah kita (para agamawan ini) untuk makin terlibat (mewujudkan iman) memberikan pelayanan konkret.


Dewasa ini, seiring perkembangan ilmu dan teknologi, di satu pihak berkembang aneka persoalan sosial yang membutuhkan penanganan yang serius, cepat namun manusiawi. Sementara itu, di pihak lain, semakin banyak pula generasi muda yang menjadi korban narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang) dan HIV/AIDS. Sadar atau tidak, cepat atau lambat, kita akan menjumpai kenyataan lost generation. Kondisi seperti ini tidak bisa didiamkan terus-menerus. Adalah tantangan bagi semua pihak untuk mengambil sikap secara bijaksana dan secara konkret mewujudkannya dalam gerakan saling membahu. Persoalannya bukan sekedar membongkar pemahaman yang keliru mengenai HIV/AIDS dan narkoba tetapi menyangkut pola dan gaya hidup yang telah merasuk dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Kita perlu mengkaji pola dan gaya hidup tersebut agar generasi muda kita tidak menjadi ‘generasi yang hilang’. Sebuah generasi yang “mati” karena tercampak dalam persaingan “bisnis” global yang menggiurkan, sebuah jaringan bisnis yang terlarang, namun terlaris. Sebuah generasi yang “kehilangan” sentuhan kasih dan perhatian dari sesamanya, akibat dikucilkan dan dijauhkan dalam masyarakat, karena dianggap membawa aib dan petaka.

Siapakah yang harus peduli dengan persoalan-persoalan semacam ini? Siapakah yang harus bertanggungjawab untuk menghindarkan generasi muda dari aneka bahaya? Lembaga manakah yang paling mumpuni untuk meng-entas­-kan generasi muda dari suatu “kematian” yang sia-sia? Bagaimana sikap dan reaksi kita apabila para penderita itu adalah anggota keluarga kita sendiri? Siapkah kita, bila lost generatian itu benar-benar menimpa masyarakat kita? Di manakah peran keluarga? Di manakah peran lembaga-lembaga adat dan agama?

Saya teringat akan suatu pengalaman ketika mendengarkan testimoni seorang penderita HIV/AIDS dalam workshop itu. Testimoni yang sungguh-sungguh menggugah dan menyentuh hati. Betapa mereka menderita bukan saja karena penyakit yang dideritanya, tapi terutama karena mereka dijauhi dari lingkungan keluarga dan orang-orang terdekat mereka. Kenangan akan testimoni itu sangat membekas dalam ingatan saya, sehingga saya berani mengatakan bahwa persoalan HIV/AIDS dan narkoba bukan hanya persoalan para korban, tetapi persoalan kita bersama, termasuk lembaga-lembaga agama dan adat. Sebagai persoalan bersama, kita patut bertanya, di manakah peran kita? Di manakah sesungguhnya peran lembaga agama dan adat?

Saya berpikir bahwa tidak mungkin AIDS menimpa keluarga saya dan saya sangat tidak percaya karena keluarga saya adalah keluarga yang baik-baik. Saya diberikan obat dan dibilang obat itu adalah untuk kesehatan janin saya padahal untuk mengobati penyakit yang saya derita yaitu AIDS. Akhirnya di situ diiinformasikan tentang AIDS dan saya sudah terinfeksi. Saya sampaikan bahwa saya tidak mungkin tertular AIDS. Saya anggap bahwa dokter itu bohong. Informasi yang diberikan itu tidak satupun yang saya percayai dan saya menyuruh agar tidak menginformasikan ke keluarga saya namun saya tidak tahu bahwa keluarga saya sudah tahu duluan mengenai masalah saya tersebut. Saya berusaha menghindari masalah yang menimpa saya itu dan ada keinginan untuk bunuh diri, tutur seorang penderita putri dengan nada iba

Selama ini informasi yang beredar dalam masyarakat adalah, para penderita AIDS adalah orang yang berperilaku seksual menyimpang. Bahkan yang lebih parah, sebagian masyarakat menganggap bahwa penderita AIDS adalah kutukan Tuhan, pembawa malapetaka dan aib dalam masyarakat. Para penderita seringkali menolak dan menyangkal bahwa mereka sudah terkena AIDS. “Saya tidak tahu apa itu homo, apa itu lesbi. Saya merasa bukan bagian dari perilaku aneh dan menyimpang. Suami saya yang terlibat tersebut gejalanya adalah badannya sangat panas. Sempat saya ke dukun dan dibilang saya hamil sudah tiga bulan. Namun begitu lama-lama akhirnya saya tahu bahwa saya adalah penderita AIDS. Sehingga dalam keluarga saya sering dikucilkan dan tidak ada yang mau makan dengan saya. Dari itupun saya belum tahu bahwa saya sudah menderita AIDS. Ternyata informasi itu lebih banyak ke mertua saya dan saya sama sekali tidak tahu bahwa sudah tertular”, kisahnya dengan lega karena ada yang mau mendengarkan deritanya.

Kini, penyakit AIDS dan Narkoba sudah mewabah sedemikian luas hampir di seluruh pelosok tanah air. Kota-kota besar di tanah air kian “berlomba” siapa yang menjadi “juara” dalam statistik penderita penyakit ini. Kita tidak bisa tidak harus segera berbuat sesuatu agar kehidupan sosial kita tidak semakin rentan terhadap aneka pengaruh negatif tanpa filter yang cukup. Ikatan-ikatan sosial kekeluargaan ‘terancam’ putus oleh rundungan anek virus yang mematikan dalam masyarakat. Masyarakat menjadi kehilangan solidatas dan persaudaraan karena rasa curiga dan ketakutan. Akibatnya semakin banyak penderita baik karena penyakit akibat virus/kuman maupun akibat dikucilkan dalam masyarakat.

Bagaimana lembaga-lembaga agama mewujudkan kepeduliannya kepada para penderita? Kini sudah saatnya Gereja berpihak kepada para penyalahguna narkoba dan penderita AIDS. Keberpihakan itu diwujudkan dalam berbagai bidang usaha untuk menanggapi permasalahan HIV/AIDS dan narkoba secara serius. Bidang-bidang itu meliputi pencegahan, perawatan pendampingan psikologis, sosial dan spiritual. Untuk itu dibutuhkan solidaritas global untuk mengembalikan martabat manusia sebagai pembangun kebudayaan hidup. Upaya gereja tersebut hasruslah merupakan usaha penuh cinta kasih kepada sesama terutama yang berada dalam kondisi tidak menguntungkan agar mampu berkembang sebagai manusia yang bermartabat di hadapan Allah. Hal itu dapat dilaksanakan dengan dua cara, pertama terciptanya masyarakat basis multikultural yang berhati nurani. Dalam masyarakat yang demikian, setiap identitas agama tidak berhenti pada simbol melainkan pada sikap hidup, tindakan yang santun dan mau menerima penderita sebagai bagian dari tanggungjawab bersama. Kedua, mengembangkan cara berpikir dan hati nurani yang baru. Dalam kondisi masyarakat sekarang ini, setiap orang beriman mesti terlibat lebih penuh dalam kehidupan bermasyarakat. Keterlibatan itu terfokus pada transformasi sosial dan kultural yang efektif, yakni sebagai penabur kasih dan pelaku budaya kehidupan.

Selain itu, upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS harus dilakukan secara bersama-sama dan bersinergi oleh seluruh komponen masyarakat dengan mengedepankan nilai-nilai moral atau nilai-nilai kemanusiaan yang bersumber dari ajaran agama. Pendekatan-pendekatan manusiawi harus terus digalakkan untuk mendekati para penderita. Mereka jangan dijauhkan tetapi harus dirangkul dalam kasih serta diberi semangat untuk terus hidup dalam keterbatasan dan kesakitan yang dialami tersebut. Janganlah penderitanya dijauhi, tapi bagaimana semua orang berupaya untuk menjauhkan penyakit (narkoba dan HIV/AIDS) dari kehidupan sosial. Maka upaya-upaya kemanusiaan yang dilakukan agama-agama kepada para penderita adalah pertama-tama memberi pemahaman bahwa epedemik HIV/AIDS dan narkoba bukanlah kutukan Allah, tetapi resiko dari kebebasan manusia yang hidup dalam dunia yang menderita dan sakit. Manusia akan selalu terjebak dan dijebak dalam lilitan itu. Dan untuk mengeluarkannya dari belitan tersebut hanyalah kasih dan pengampunan Allah sajalah yang sanggup mengalahkan maut dan membangkitkan manusia dari keterpurukannya.

Berhadapan dengan berbagai persoalan sosial, agama-agama (melalui para pemimpinnya, imam, bruder dan susternya) perlu melakukan sesuatu secara konkret. Beragama tidak sebatas tempat-tempat suci yang bersifat ritual dan rutin. Tetapi (ber) agama-agama perlu menemukan cara pendekatan baru yang lebih menyentuh permasalahan sosial, apalagi sekarang dengan kenaikan BBM, permasalahan yang dihadapi masyarakat makin kompleks. Kini, agama-agama harus tampil untuk membela para korban, bukan malah menjauhi apalagi memanfaatkan situasi “terdesak” masyarakat. Agama(wan) harus berani tampil meneriakan pekik pembebasan agar masyarakat bisa survive dengan kehidupan mereka yang kian sulit itu. Beragama secara aktual berarti mampu melakukan sesuatu secara nyata bagi sesamanya. Beragama berarti menyelamatkan kehidupan dari ancaman kepunahan dan kehancuran yang sia-sia, dari ketiadaan kasih, dari kegersangan nurani. Beragama secara nyata berarti melayani Tuhan dalam diri mereka yang lemah dan menjadi korban di hadapan kita.

Sebagai orang kristiani, bukankah Yesus sendiri telah menegaskan bahwa ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara kamu mengunjungi Aku. Sebab Aku berkata kepadamu sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Mat 25:35-36, 45). Inilah suatu identifikasi empatis bersam mereka yang paling hina dan menderita sebagai etika pelayanan kristiani yang berporos pada Kristus. Suatu pelayanan yang tidak membiarkan korban “terlempar” dalam kegersangan cinta dan kasih.



Terapi air putih

DRINK WATER ON EMPTY STOMACH
(MINUM AIR PADA SAAT PERUT KOSONG)
dikutip dari berbagai sumber


It is popular in Japan today to drink water immediately after waking up every morning. Furthermore, scientific tests have proven its value. We publish below a description of use of water for our readers. For old and serious diseases as well as modern illnesses the water treatment had been found successful by a Japanese medical society as a 100% cure for the following diseases:


Di Jepang sekarang ini sangat popular sekali trend minum air segera setelah Bangun pagi. Apalagi, test ilmiah telah membuktikan keampuhannya. Kami memberikan deskripsi penggunaan air kepada pembaca kami dibawah ini. Terapi air ini telah dibuktikan sukses oleh kumpulan pengobatan Jepang untuk penyakit lama dan serius dan juga penyakit moderen. Penyakit-penyakit tersebut adalah sebagai berikut:

Headache, body ache, heart system, arthritis, fast heart beat, epilepsy, excess fatness, bronchitis asthma, TB, meningitis, kidney and urine diseases, vomiting, gastritis, diarrhea, piles, diabetes, constipation, all eye diseases, womb, cancer and menstrual disorders, ear nose and throat diseases.

Sakit kepala, sakit badan, system jantung, arthritis, detak jantung cepat, epilepsi, kelebihan berat badan, asma bronchitis, penyakit ginjal dan urin, muntah-muntah, asam lambung, diare, diabetes, susah buang air besar, semua penyakit mata, rahim, kanker, datang bulan lancar, dan penyakit telinga, hidung dan kerongkongan.

METHOD OF TREATMENT / METODE TERAPI

As you wake up in the morning before brushing teeth, drink 4 x 160ml glasses of water
Brush and clean the mouth but do not eat or drink anything for 45 minute
After 45 minutes you may eat and drink as normal.
After 15 minutes of breakfast, lunch and dinner do not eat or drink anything for 2 hours
Those who are old or sick and are unable to drink 4 glasses of water at the beginning may commence by taking little water and gradually increase it to 4 glasses per day.
The above method of treatment will cure diseases of the sick and others can enjoy a healthy life.

Setelah anda Bangun pagi sebelum mengosok gigi, minum 4 x 160 gelas air
osok dan bersihkan mulut tetapi jangan makan ataupun minum apapun selama 45 menit
Setelah 45 menit anda boleh makan dan minum seperti biasa
Setelah 15 menit sarapan, makan siang dan makan malam, jangan makan ataupun minum apapun selama 2 jam
Untuk anda yang tua ataupun sakit dan tidak dapat minum 4 gelas air pada saat mulai bisa digantikan dengan meminum sedikit air terlebih dahulu dan kemudian ditingkatkan secara berkala hingga 4 gelas per hari.
Metode diatas adalah terapi untuk mengobati penyakit dari orang yang sakit dan orang lain dapat menikmati hidup yang sehat.

The following list gives the number of days of treatment required to cure/control/reduce main diseases:
1. High Blood Pressure (30 days)
2. Gastric (10 days)
3. Diabetes (30 days)
4. Constipation (10 days)
5. Cancer (180 days)
6. TB (90 days)
7. Arthritis patients should follow the above treatment only for 3 days in the 1st week, and from 2nd week onwards – daily.

This treatment method has no side effects, however at the commencement of treatment you may have to urinate a few times.

Daftar berikut adalah jumlah hari yang dibutuhkan untuk terapi pengobatan/ control/mengurangi penyakit utama:
1. Tekanan darah tinggi (30 hari)
2. Asam lambung (10 hari)
3. Diabetes (30 hari)
4. Susah buang air besar/konstipasi (10 hari)
5. Kanker (180 hari)
6. Tuberculosis (90 hari)
7. Pasien arthritis disarankan untuk mengikuti terapi diatas ini hanya 3 hari pada minggu pertama dan dari minggu kedua dan seterusnya – setiap hari

Metode pengobatan ini tidak mempunyai efek samping, tetapi pada saat pelaksanaan pengobatan ini anda mungkin akan buang air beberapa kali.

It is better if we continue this and make this procedure as a routine work in our life. Drink Water and Stay healthy and Active.

Adalah lebih baik jika kita melanjutkan terapi ini dan menjadikan prosedur ini sebagai rutinitas kerja dalam kehidupan kita. Minum air dan tetap sehat dan aktif.

This makes sense ... The Chinese and Japanese drink hot tea with their meals ..not cold water. Maybe it is time we adopt their drinking habit while eating!!! Nothing to lose, everything to gain...

Hal ini masuk akal…. Orang Cina dan Jepang minum the hangat pada saat makan mereka ... bukan air dingin. Mungkin sudah waktunya kita mengadopsi kebiasaan minum mereka sewaktu makan!! Tidak ada yang dirugikan dari hal ini.

For those who like to drink cold water, this article is applicable to you. It is nice to have a cup of cold drink after a meal. However, the cold water will solidify the oily stuff that you have just consumed. It will slow down the digestion.

Untuk yang suka minum air dingin, artikel ini mungkin berguna untuk anda. Adalah enak untuk minum minuman dingin setelah makan. Bagaimanapun, air dingin akan memadatkan minyak yang anda konsumsi. Ia akan memperlambat pencernaan.

Once this "sludge" reacts with the acid, it will break down and be absorbed by the intestine faster than the solid food. It will line the intestine. Very soon, this will turn into fats and lead to cancer. It is best to drink hot soup or warm water after a meal.

Sekali "kotoran" ini bereaksi dengan asam, ia akan dipecah dan diserap oleh intestine lebih cepat daripada makanan padat. Ia akan berbaris dalam usus besar. Dengan cepat, ini akan berubah menjadi lemak dan menjadi pemicu kanker. Adalah sangat bagus untuk minum sup hangat ataupun air hangat setelah makan.

A serious note about heart attacks:
Women should know that not every heart attack symptom is going to be the left arm hurting,
Be aware of intense pain in the jaw line.
You may never have the first chest pain during the course of a heart attack.
Nausea and intense sweating are also common symptoms.
60% of people who have a heart attack while they are asleep do not wake up.
Pain in the jaw can wake you from a sound sleep. Let's be careful and be aware. The more we know, the better chance we could survive...

Pesan yang serius untuk serangan jantung:
Wanita seharusnya tahu jika tidak semua simptom serangan jantung adalah sakit pada lengan kiri.
Berhati-hatilah terhadap sakit yang sangat pada garis rahang
Kamu mungkin tidak pernah merasakan sakit pertama pada dada selama serangan jantung
Pusing dan keringat berlebihan merupakan simptom pada umumnya.
60% dari orang mengalami serangan jantung ketika mereka sedang tidur tetapi tidak bangun lagi.
Sakit pada rahang dapat membangunkan anda dari tidur yang lelap. Mari berhati-hati dan sadar. Makin banyak kita tahu, kesempatan bertahan hidup menjadi lebih besar


A cardiologist says if everyone who gets this mail sends it to everyone they know, you can be sure that we'll save at least one life.

Seorang ahli jantung berkata jika semua orang yang mendapatkan email ini melanjutkan pengiriman kepada semua orang yang mereka kenal, anda akan bisa pastikan kita akan menyelamatkan setidaknya satu nyawa.



Senin, 26 Mei 2008

Tuhan selalu mahamurah

Tuhan selalu Mahamurah
Fredo Benedict


Manusia selalu punya keinginan dan kebutuhan, yang tidak jarang sulit dibedakan. Kadang keinginan dilihat sebagai kebutuhan, tetapi jarang kebutuhan dilihat sebagai keinginan. Demikian juga dalam berdoa. Tidak jarang orang menyampaikan doa-doa permohonan karena ingin itu...ingin ini...tanpa menyadari apakah yang didoakan itu sesuai dengan kebutuhan atau tidak.

Ketika sebuah doa tidak segera dikabulkan, orang lalu merasa Tuhan tidak mendengarkan kebutuhannya. Padahal....sesungguhnya Tuhan senantiasa mahamurah untuk memberikan sesuatu yang kita butuhkan menurut waktunya...Ya segalanya menjadi indah pada waktunya, berkat kemurahan Tuhan.


“Perasaan paling luhur dan mendalam adalah pengalaman akan Tuhan. Dari pengalaman itu berasal segala ilmu. Siapa saja yang tidak mengenal perasaan ini, siapa saja yang tidak dapat kagum dan tenggelam dalam rasa khidmat, ia sudah mati jiwanya. Pengetahuan bahwa Dia, yang tidak dapat diselidiki sungguh-sungguh ada, dan mewahyukan diri sebagai kebenaran tertinggi dan keindahan yang cemerlang, adalah inti dari agama sejati ...” (Albert Einstein)


Pada tanggal 14 Maret 2000, di sebuah tempat terpencil di pedalaman Madagascar saya dan pastor pembimbing saya mengalami kecelakaan mobil. Memang waktu itu hujan dan angin sangat kencang. Jalanan yang aslinya memang tanah liat menjadi berlumpur dan licin. Mobil hanya bisa berjalan pelan (10 km/jam). Ketika sampai pada jalanan yang agak menurun, ban mobil tidak bisa berputar lagi. Tetapi mobilnya terus meluncur karena tanah liatnya licin. Sopir (pastor itu) tidak mengerem, tetapi membiarkan sambil memutar stir ke arah tebing. Kejadian itu begitu cepat, tiba-tiba mobil menabrak tebing lalu berhenti. Kepala kami terbentur tapi tidak mengalami cedera. Kami segera berpelukan dan menangis serta spontan berterima kasih pada Tuhan. Sebab kalau mobil meluncur ke arah jurang (kurang lebih 25 meter) maka cerita ini tidak akan sampai di tangan Anda.

Yang penting di sini bukan selamatnya kami dari kecelakaan, tetapi pada kemurahan Tuhan membiarkan penyelenggaraan kasihNya nan luhur. Saat itulah kami mengalami keilahianNya, kami tenggelam dalam kekaguman mahadahsyat pewahyuan penyertaanNya yang tidak kelihatan namun sungguh terasa. Dalam pengalaman keterbatasan itu (kecelakaan) mata iman kami terbuka dan tertuju padaNya.

Keilahian Tuhan kadang tampak kepada kita pada saat-saat yang tidak terduga. Dia bisa hadir kapan saja, kadang dalam sepoi angin yang menidurkan, kadang dalam kecelakaan yang menyetak kesadaran iman, kadang kita tangkap sama sekali meski nyata dalam udara yang kita hidup, dalam air yang kita minum, dalam makanan yang kita makan, dst.


Ya Tuhan....kadang maksudMu
sulit dipahami oleh akalbudiku yang terbatas ini.
Engkau senantiasa menyatakan diri dengan caraMu sendiri,
yang sering kurang aku tangkap dan maknai.
Bantulah aku untuk selalu membuka mata imanku
dan melihat segala kemurahanMu dalam
hidupku setiap hari.

“Rabi, betapa bahagianya kami di tempat ini.
Baiklah kami dirikan tiga kemah,
satu untuk Engkau,
satu untuk Musa
san satu untuk Elia” (Mrk 9:5)

Keluarga Kudus Sang Model

Keluarga Kudus Sang Model
(Diterjemahkan dari Le Messager de la Sainte Famille No. 90, 1987, hlm. 9)



Bagi umat kristiani, menghayati dan menghidupi spiritualitas Keluarga Kudus tidak bisa terlepas dari iman yang dihidupi oleh Gereja yaitu: Iman akan Allah Tritunggal. Dalam arti ini, kalau umat beriman menjadikan Keluarga Kudus sebagai model hidup berkeluarga itu berarti dalam kerangka iman Gereja akan Allah Tritunggal. Untuk memahami spiritualitas Keluarga Kudus kita dapat bertolak dari teologi inkarnasi yang mengarah pada permenungan atas karya keselamatan Allah dalam terang misteri Paska. Konstitusi MSF 1985 merefleksikannya dari dua arah, yaitu dari “atas” dan dari “bawah”. Teologi dari “atas” merumuskan bahwa dalam Keluarga Kudus cinta Allah kepada manusia diejawantahkan. Teologi dari “bawah” mengungkapkan bahwa dalam Keluarga Kudus tanggapan dari pihak manusia terhadap anugerah-anugerah Allah diungkapkan secara paling jelas, khususnya anugerah cintaNya.

Dengan pemahaman yang demikian, maka dapat dikatakan bahwa salah satu kekuatan atau spiritualitas Keluarga Kudus yang dihayati dalam kerangkan iman Gereja adalah CINTA. Karena cintaNya kita diselamatkan. Karena cinta pulalah kita menanggapi karunia Allah secara bebas dan bertanggungjawab sebagaimana yang diinspirasikan oleh Keluarga Kudus Nazareth.

Cinta dalam keluarga menandakan pertumbuhan nilai-nilai kesatuan hati dan kerelaan/ kesiapsedian untuk mencari kehendak Allah. Cinta dalam keluarga menjadi tanda pengenalan kembali akan bahaya-bahaya dan kesalahan-kesalahan yang dapat mengakhiri kekuatan perziarahan rumah tangga keluarga-keluarga kristiani. Maka dari itu cinta hendaknya diwujudnyatakan dalam semangat keterbukaan yang memungkinkan sebuah perkembangan bersama. Cinta adalah sebuah bentuk Kasih sejati yang memberikan semangat dan dukungan kepada keluarga kristiani dewasa ini dalam menghadapi aneka permasalahan. Oleh karena itu dengan meneladan Keluarga Kudus, keluarga-keluarga kristiani diajak untuk menjadi alat kepenuhan cinta Allah. Keluarga kristiani diharapkan untuk mengikuti Kristus yang menjiwai Keluarga Kudus Nazareth.

Pater J.B. Berthier, MS (pendiri tarekat MSF) mengungkapkan bahwa Keluarga Kudus adalah, “Model yang sempurna mengenai kesatuan hati, saling memahami, ketaatan dan penyangkalan diri bagi keselamatan yang lain” (K. 1985, no.5). Maka dari itu keluarga-keluarga kristiani pun mengemban tugas perutusan yang sama yaitu mewartakan dengan bahagia dan setia Kabar Gembira bagi keluarga-keluarga di sekitarnya yang sangat membutuhkan siraman rohani untuk mendengar dan mengerti secara baik setiap Sabda Allah dalam hidup sehari-hari.

Bercermin pada teladan hidup Keluarga Kudus Nazareth, keluarga-keluarga kristiani diundang untuk bersatu hati dan saling mendukung serta menampakkan tanggungjawab mereka di dalam pelayanan sekaligus mendorong anak-anaknya untuk aktif terlibat dalam setiap aktivitas gerejani. Dalam kesetiaan nilai-nilai Injili dan nilai-nilai kemanusiaan, hendaknya dihargai inisiatif satu sama lain dalam situasi yang plural. Kesatuan yang demikian itu menjadi sebuah situasi yang penting untuk ditampakkan secara cepat, tepat dan total oleh keluarga kristiani. Dalam situasi sekarang ini, di tengah aneka tawaran duniawi yang merasuk sukma setiap insan manusia, tak luput juga keluarga-keluarga kristiani, sangat penting dan mendesak untuk kembali memaknai dan menghayati spiritualitas Keluarga Kudus Nazareth sebagai model hidup sepanjang masa.

Di dalam kehidupan Keluarga Kudus Nazareth, Yesus hadir menerangi, membahagiakan dan menguduskan serta memberikan kekuatan bagi setiap keluarga kristiani sebagaimana yang terjadi sewaktu di Kana. Maka dari itu tugas dan tanggungjawab seluruh keluarga kristiani adalah memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi setiap generasi untuk menghadirkan kerajaan kehidupan dan kebenaran, rahmat dan pengudusan, keadilan, kasih dan kedamaian dalam setiap sejarah hidup yang dilalui.

Pada Yesus, Maria dan Yusuf, kita percayakan seluruh keluarga kita. Melalui tangan dan hati mereka, kita harapkan agar hati setiap keluarga dibuka dan diterangi oleh Injil Kerajaan Allah.

Minggu, 25 Mei 2008

Keluarga Kudus: Model....

KELUARGA KUDUS:
Model hidup kekeluargaan dan kemasyarakatan*
(Suatu Kontemplasi untuk belajar tentang kemanusiaan anggota Keluarga Kudus)


Allah sendiri adalah sebuah keluarga, suatu keluarga abadi yang terdiri dari tiga: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sejak semula, mereka saling mengenal dan mencinta dalam satu kesatuan sempurna. Keluarga Allah itu, Trinitas abadi adalah model yang sempurna dari seluruh hidup keluarga dan seluruh hidup sosial. Tetapi Allah dalam Tiga Pribadi ini sangatlah besar dan tak terbatas bagi kita untuk dijadikan sebagai model dalam hidup kita yang terbatas. Itulah keluarga surgawi yang seharusnya kita kenal secara mendalam dan benar. Sebab ketika kita berhadapan langsung dengan Tiga Pribadi ilahi dalam kemesraan mereka kita akan membagi hidup mereka yang membahagiakan dalam hidup kita sendiri.

Model Keluarga Nazareth

Karena keluarga abadi sulit ditiru dalam kehidupan kita yang fana, Allah telah memberikan kepada kita sebuah model yang kita kenal serupa dengan kita dan dapat ditiru: Keluarga Kudus dari Nazareth. Itulah “Trinitas” duniawi yang kelihatan, sebab mereka tiga juga: Jesus, Maria dan Yosef. Itulah model kita di dunia yang sempurna. Sebuah model bagi persatuan kita dengan keluarga besar anak-anak Allah.

Mari kita kontemplasikan “Trinitas” duniawi, Yesus, Maria dan Yosef. Satu hal saja dari tiga pribadi suci ini yang akan digunakan dalam formasi manusiawi kita. Melalui pengalaman-pengalaman mereka yang saling melengkapi ketiga pribadi ini menjadi model kita baik dalam hidup keluarga maupun sosial kita.

Kita akan menguji beberapa hal yang menjadi ciri khas masing-masing pribadi keluarga kudus ini. Yesus tidak pernah datang melalui perkawinan manusia, tidak berupaya memberikan contoh konkret kepada para tunangan dan pasangan suami-istri yang kadang-kadang menemui kesulitan yang tak diharapkan. Melalui Maria dan Yosef, Allah memberikan contoh kelakuan yang baik kepada para pasangan tunangan atau suami-istri ketika timbul suatu cobaan yang mengancam kesatuan atau merusak kebaikan mereka.

Kesetiaan Yosef

Yosef dan Maria telah bertunangan (ekuiwalen dengan perkawinan), tetapi mereka belum boleh hidup bersama. Beberapa saat kemudian, Maria pergi selama tiga bulan ke rumah sepupunya Elizabeth. [Kepergian Maria ke tempat Elizabeth, bagi kita bisa menjadi semangat/teladan untuk melayani yang jauh, miskin, lemah dan tersingkir. Kepergian Maria adalah sebuah opsi bagaimana kita meyalani, meski kondisi kita sendiri harus dilayani.] Dan ketika dia kembali ke Nazareth, Yosef menyadari bahwa Maria telah mengandung. Yosef tercengang dan bertanya ketakutan: bagaimana itu terjadi?

Malekat Gabriel, tidak segera memberi keterangan kepada Yosef! Allah punya rencana bahwa Maria dan Yosef harus mengetahui setiap cobaan dari pasangannya sendiri. Mereka diberi kesempatan menjadi model kerendahan hati bagi banyak pasangan yang akan menemui cobaan semacam itu untuk berpikir, berkeputusan dan bertindak dengan rendah hati.

Kita mungkin akan berpikir seperti Yosef. Mungkin ia bertanya-tanya jangan-jangan Maria telah diperkosa atau telah digoda oleh seorang laki-laki lain. Yosef terus bergulat dengan pikiran dan perasaannya. Meski ragu ia tetap bersedia mengambil Maria dan menjadi ayah sesungguhnya bagi anaknya! Tetapi yang mengherankan: Maria tidak pernah mengatakan padanya!...Adakah sesuatu yang sangat sulit dijelaskan atau diyakinkan padanya? Yosef menghormati kebisuan Maria, tetapi dia sesungguhnya ketakutan.

Lalu mengapa Maria tidak pernah berbicara? Malaikat Gabriel tidak pernah melarang dia memberitahu Yosef. Apakah Maria bingung menjelaskan pada Yosef suatu perbuatan yang tak dapat dipercayai secara manusiawi? Tentu Maria sangat menderita seperti Yosef. Dan mereka saling menerka pikiran dan perasaan satu sama lain. Dalam kekalutan mereka memohon agar Allah sendiri yang memecahkan kesulitan itu, dan mengatur segala sesuatu menurut kehendak dan kebaikanNya. Yosef tentu tidak merasa dirinya tidak layak, tidak mampu untuk menerima anak yang kudus itu, seorang ayah angkat dan seorang pendidik yang baik untuk mempersiapkan misiNya di masa depan. Dia hanya lelah untuk mencari suatu solusi yang cocok atas masalah yang sangat menyedihkan ini. Dan dia tidak menemukan solusi yang lebih baik selain mengembalikan sepenuhnya pada kebebasan Maria, tanpa menuduh dia yang bukan-bukan, tanpa surat penolakan. Ia sangat menghormati kebebasan dan reputasi Maria. Tetapi reputasinya sendiri ditekan?...Jika ia memutuskan Maria, maka orang akan menyebutnya meninggalkan tunangannya yang ideal tanpa alasan yang bisa diterima, atau seorang pengecut yang menelantarkan seorang anak yang akan menjadi miliknya. Dia pun memohon pada Allah kekuatan untuk menanggung semuanya itu. [Oh...seandaianya banyak orangtua dewasa ini belajar pada Yosef dan Maria...].

Namun Allah tidak menghukum tunangan Maria itu terus menerus. Dia mengutus malaikatNya pada Yosef untuk menjelaskan rencana Allah. Bahwa Yosef akan menjadi ayah yang kelihatan dan nyata, ayah angkat yang sesungguhnya dan pendidik yang benar, bersama Maria, bagi anak yang kudus itu. Dia juga akan menjadi penjaga bagi Perawan dan kepala Keluarga Kudus. Yosef pun menerima rencana ilahi itu dengan suatu kesederhanaan yang mengagumkan dan penuh keyakinan akan pertolongan Allah. Itulah penghargaan yang luar biasa membesarkan bagi Maria dan bukti cintanya yang masih tulus pada Maria.

Ketenangan datang lagi setelah dites dalam jiwa dari pasangan model ini. Suatu kedamaian dan afeksi mutual nyata merajai rumah tangga mereka. Mereka telah menyiapkan diri dengan suatu buaian kebahagiaan untuk menantikan sang anak. Dan ketika tiba hari kelahiran sang anak ilahi, tetapi dalam situasi yang tak dipersiapkan sebelumnya: dalam kemisikinan dalam perjalanan ke Betlehem, akibat dekrit Kaisar. Dalam hal ini, Anak Allah telah memberikan contoh, lahir di dalam kandang tidak dalam kerajaan yang mewah. Dia mengajarkan kekayaan spiritual suatu kebenaran bagi kehidupan kekal. Dia telah menunjukkan cinta Allah yang tanpa batas. Dia telah memperlihatkan kemanusiaan Allah dan menjadikan diriNya kecil diantara kita dan lebih mendekatkan diriNya dengan keadaan kita.

Model Orangtua Yang Baik

Maria adalah model dari seorang ibu yang penuh dengan kemesraan bagi anaknya, yang penuh dengan kebaikan bagi beberapa pengunjung atau tetangga yang tertarik dengan mereka dan datang melihat mereka. Yosef adalah model dari seorang suami yang penuh perhatian, afektif dan seorang ayah yang penuh cinta dan kesetiaan bagi anaknya. Yosef juga model dari kepala keluarga yang bertanggungjawab. Sebagai kepala keluarga, ia tentu mencari rumah di Betlehem, tetapi yang ditemukan hanyalah sebuah gua kandang hewan para gembala. Yosef mencari juga pekerjaan dan bekerja sebagai tukang kayu di kotanya untuk menghidupi keluarga kecilnya. Itulah mengapa dia bekerja ketika kedatangan para Majus yang “masuk dalam rumah”, kata Injil, “kalian akan menemui hanya seorang anak bersama Maria ibunya”. Mereka bertemu juga dengan Yosef, tetapi tentu saja setelah dia kembali dari kerja.

Setelah kunjungan para Majus, keluarga ini segera mengungsi ke Mesir, untuk menghindari permusuhan raja Herodes. Karena Yosef adalah kepada keluarga, dialah yang melindungi mereka dari bahaya, dialah yang memutuskan untuk segera pergi, dengan tergesa-gesa. Setelah beberapa saat tinggal di sebuah tanah yang asing, dialah yang mengambil keputusan untuk kembali ke Nazareth bukan ke Betelhem. Setiap kali dia menyampaikan keputusannya kepada Maria dengan halus, tetapi juga dengan ketegasan yang manis. Dan Maria taat, tanpa membuat kesulitan, sebab dia penuh kepercayaan pada Yosef dan kebijaksanaannya.

Orangtua Yang Tidak Posesif dan Abusif

Waktu terus berlalu, tanpa sejarah yang menakjubkan di desa Nazareth. Yesus pun semakin dewasa dan bijak. Ia terlibat sedikit demi sedikit dengan pekerjaan Maria dan Yosef dan membiarkan diriNya patuh kepada bimbingan mereka. Dan tibalah umur 12 tahun. Ia tidak lagi seorang anak kecil, tetapi seorang remaja. Maka, timbullah suatu peristiwa yang menjadi contoh yang jelas dan lengkap bagi para orangtua yang menemui kesulitan terhadap anak-anak mereka yang mulai besar. Sebagaimana seorang remaja, Yesus ingin mewujudkan kebebasan pribadiNya, kebebasan berpikir dan mengambil keputusan seorang diri. Maria dan Yosef sebagai orangtua yang baik merasa bingung dengan sikap dan kelakuan baru anak remaja mereka.

Dalam suatu iringan besar orang-orang Galilea yang berangkat ke Yerusalem untuk merayakan paskah, Maria dan Yosef telah memperlihatkan pada kita bagaimana menjadi orangtua yang bijaksana, bukan orang tua yang posesif (mengekang), abusif (menyalahkan), yang berprasangka, dan sangat mengawasi anak mereka yang berumur 12 tahun itu. Mereka tentu telah memberikan dia suatu kebebasan. Maria berjalan bersama sekelompok wanita, Yosef bersama sekolompok pria. Dan Yesus kadang bersama salah satu kelompok orangtua itu, kadang bersama pemuda seumurnya, atau bersama satu keluarga sahabat.

Dalam perjalanan itu, segalanya berjalan baik. Tetapi ketika kembali, setelah suatu perjalanan kaki yang melelahkan (tentu dengan barang-barang bawaan) kurang lebih 35 km, semua keluarga berkumpul untuk untuk istirahat tentu saja untuk makan, sebelum meneruskan perjalanan keesokan harinya. Lalu...Maria dan Yosef baru menyadari kalau Yesus tidak bersama salah satu dari mereka, tidak bersama para sahabat, selama perjalanan pulang itu: tidak seorang pun yang lihat!

Keesokan harinya, mereka berbalik lagi ke perjalanan yang sama dengan sangat cemas, dan mereka bertanya diri tentang tugas mereka sebagai orangtua. Setibanya di Yerusalem, mereka lelah sekali. Mereka istirahat sejenak mungkin di rumah kenalan mereka, lalu berusaha untuk menemui Yesus. Dan kurang lebih setelah tiga hari mereka mencari, mereka menemui Yesus dalam sinagoga... [oh betapa leganya hati mereka]

Apakah yang dapat dilakukan, apabila kita seperti mereka sebagai orangtuanya yang sesungguhnya? Tentu kita akan menghukumnya dengan menjewer telinganya atau lebih kejam menyiksa dia hingga sekarat bahkan meninggal [sebagaimana yang sering terjadi dewasa ini, orangtua bertindak kejam pada anak-anak mereka]. Lain dengan yang dilakukan oleh Maria dan Yosef. Tidak ada satu hal pun yang disampaikan oleh keduanya. Sebagai pendidik yang baik mereka tidak mencela anak mereka apalagi menghukumnya meskipun dia semestinya mendapat celaan atau hukuman. Tetapi malah mereka bangga ketika menyaksikan anak mereka sedang berdiskusi dengan para cerdik pandai dan menggantikan kedudukan mereka. Mungkin ada suatu alasan yang dapat diterima mengapa dia berbuat demikian. Tetapi alasan yang mana? Mereka harus menemukannya. Itulah mengapa mereka memulainya dengan pertanyaan....

Marialah yang bertanya. Yosef membiarkan dia berbicara, dia mendengarkan dan refleksi dengan puas. Sebab dia tidak pernah menyalahgunakan kekuasaannya. Maria sama adilnya dengan dia terhadap anaknya. Dengan kesedihan seorang ibu, Maria bertanya: “Mengapa engkau menyusahkan kami dengan berbuat demikian....tinggal di sana tanpa memberitahu dan tanpa meminta ijin kami?”

Dalam jawaban Yesus, Maria dan Yosef mengerti bahwa Yesus berbuat demikian “bagi BapaNya di surga”. Tetapi mereka tentu tidak mengerti dengan segera. Itulah mengapa dalam hal ini, Yesus tidak perlu meminta ijin mereka dan tanpa ragu Dia menunjukkan bahwa Dia semestinya melakukan kehendak Bapa surgawi yang mengatasi orangtua duniawinya. Meski demikian orangtuaNya tetap setia menuntun Dia semakin memahami kehendak Allah dalam keseharian mereka di Nazareth..

Maria dan Yosef mulai mengerti bahwa Yesus mempunyai suatu alasan yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan mereka, bahkan sebagai seorang anak, Yesus sendiri siap menerima hukuman, seandainya mereka melakukannya. Mmereka hanya bisa merenungkan jawaban Yesus dalam hati. Dan mereka menjadi lebih mengerti dan memahami seorang anak remaja yang sedang berusaha menampilkan jatidirinya secara jujur dan sedikit berisiko (bagi anak seumur dia) berhadapan dengan para imam kepala.

Yosef yang sejak semula hanya diam, dengan penuh wibawa berkata: “Serakang, mari kita kembali ke Nazareth”. Saya yakin, dalam perjalanan pulang itu, saat hanya mereka bertiga, Yesus berusaha menjelaskan maksud perbuatanNya sebagai suatu panggilan yang harus dilakukanNya di hadapan orang banyak. Dengan penuh kelembutan dan rasa sayang, Ia berusaha menyenangkan hati mereka, yang tentu saja sudah kelelahan [suatu kelelahan akibat beratnya beban tanggungjawab sebagai orangtua yang “kehilangan” anak] dan memperbaiki rasa bersalahNya. Yesus memperlihatkan suatu sikap patuh sembari menyesuaikan diri dengan masa remajaNya. Ia sungguh mengasihi dan menghormati mereka. Kitab Suci bahkan mencatat dengan sebuah ungkapan yang sederhana: “Ia kembali bersama mereka ke Nazareth dan tetap berada dibawah bimbingan mereka.”

Melepas Anak Memenuhi Panggilan

Waktu terus berlalu dalam keheningan Nazareth. Kini.....tibalah Yesus berumur 30 tahun. Apa yang ditakutkan Maria terjadi. Dengan rasa sedih mendalam, Yesus mengatakan bahwa saatNya sudah tiba, Ia harus segera meninggalkan mereka untuk memenuhi panggilan utamaNya: mewartakan kabar keselamatan, membebaskan yang miskin, dan menghantar jiwa-jiwa ke dalam kemuliaan kekal.

Maria sedih mendengarkan Puteranya, tetapi dia sadar bahwa Puteranya bukan untuk dirinya sendiri, namun bagi seluruh umat manusia. Sebagai hamba Allah yang setia, dan secara manusiawi, ia siap melayani dengan segenap jiwa raga, karena Allah telah menganugerahkan keselamatan padanya maka kini ia harus membantu Puteranya... melalui doa dan pelayanannya yang total untuk mewujudkan kasih Allah dan sesama, tetapi sekali lagi semuanya bergantung sepenuhnya pada kehendak Allah.

Sementara Yesus mulai menyatakan kasih dalam sejumlah mukjizat dan perbuatan baik, Maria tetap menjalani hidupnya yang biasa secara tekun. Yesus telah memberi dia suatu contoh hidup yang biasa bukan saja terbatas dalam keluargaNya tetapi juga di hadapan publik. Dan sedikit demi sedikit mereka mulai mengerti bahwa Dia sungguh Allah dan sungguh manusia. Bagi kita, tentu lebih mudah meniru Maria daripada meniru Yesus. Maria memang tidak melakukan mukjizat, tetapi dia dengan penuh keyakinan meminta pada Puteranya melakukannya sewaktu di Kana. [Maria menjadi seorang ibu yang peka akan kemampuan anaknya. Kalau ibu-ibu dewasa ini peka mengembangkan bakat anak-anaknya sejak dini, niscaya akan ada banyak anak dengan prestasi gemilang namun berkualitas nurani yang handal pula.]

Yesus sendiri memang manusia sama seperti kita. Tetapi kita tak dapat meniru dia tanpa memahami apa yang Ia katakan: “Bapa dan Aku adalah satu”, atau “Barangsiapa mengasihi ayahnya atau ibunya lebih daripada Aku tidak layak bagiKu!” Yesus mengatakan itu tanpa memungkiri kemanusiaanNya, sebab kebenaran sejati dan misiNya mengajarkan kita kebenaran: kebenaran menurut Yesus sendiri, menurut Bapa Surgawi atau menurut Roh Kudus, atau kebenaran menurut kehendak manusiawi kita. Ya...kemanusiaan adalah kebenaran: kebenaran yang diketahui dan dikatakan tanpa ragu dalam roh kasih bagi kebaikan kita semua.

Maria sendiri adalah satu model yang membantu kita melaksanakan kebenaran manusiawi. Lihatlah apa yang dia lakukan selama tiga bulan di rumah sepupunya Elisabeth. Dia berada disana untuk melayani dan bukan untuk memperlihatkan dirinya sebagai Ibu Penyelamat, dia sendiri tidak akan mengatakannya, jika Roh Kudus sendiri tidak menyatakannya pada Elisabeth. Tetapi lihatlah Elisabeth dengan penuh sukacita menyatakan perasaannya yang paling dalam. Dan apa jawaban Maria? “Jiwaku memuliakan Tuhan!” Benarlah bahwa aku akan memberi sang Penyelamat kepada dunia, tetapi sesungguhnya biarlah Allah yang dimuliakan, dipuji dan dicintai lebih daripada aku. Dialah yang melakukan semua hal indah demi keselamatan semua orang. Dialah yang memperlihatkan prinsip-prinsip berbuat baik yang seharusnya kita lakukan. Sebab jika kita melakukan beberapa hal baik, itu harus dilakukan dengan kualitas dan kapasitas yang telah Tuhan berikan pada kita, dan dengan kasih yang permanen dari rahmat Allah. Kita janganlah melupakan hal-hal itu, sebab dengan cara itu kita memuliakan Allah melalui perbuatan baik yang kita lakukan. Maria, tidak pernah lupa untuk memuliakan Allah. Baginya, kebenaran manusiawi adalah kebenaran yang diketahui, tetapi kebenaran sempurna bukanlah kebenaran yang terkontaminasi sebagaimana yang kita miliki.

Sedangkan Yosef, memperlihatkan pada kita sisi kemanusiaan yang lain: kemanusiaan yang hening!. Keheningan sempurna yang penuh rasa hormat. Maria memberikan contoh bagaimana melayani Allah dengan total. Meskipun ia pernah mendapatkan jawaban yang menyakitakan dari Yesus “Siapakah ibuKu” (ibuKu adalah orang yang melaksanakan kehendak Allah), Ia tetap yakin bahwa Yesus memahami dirinya dengan penuh kasih. Jawaban Yesus yang keras, mendorong Maria semakin menemukan kehendak Tuhan. Ya....Maria selalu belajar dari semua peristiwa yang menyakitkan untuk menemukan kehendak dan rahmat Allah dalam hidupnya.

Akhirnya kita tahu bahwa dalam keluarga kecil nan bahagia (Keluarga Kudus): Yesus, Maria dan Yosef telah menjalani peran mereka dengan sempurna. Mereka telah menjadi model bagaimana memadukan dimensi spiritual (kesatuan mesra dengan Allah) dan dimensi sosial (bagaimana seharusnya mereka hidup saling menunjang satu sama lain). Mereka telah memperlihatkan pelayanan dan kasih dijalankan sesuai dengan kapasitas pribadi masing-masing. Perbedaan kapasitas itulah yang menjadikan keluaga kudus indah, utuh dan menjadi model bagi hidup keluarga dan masyarakat kita. Semoga dengan kontemplasi ini, kita semakin mampu menghidupi spiritualitas keluarga kudus dalam keluarga dan masyarakat kita.

* Pernah dimuat pada Majalah INSPIRASI Lentera Yang Membebaskan No 29 Tahun III Januari 2007