Senin, 23 Juni 2008

Serial Makin Bijak

Doa dalam perbuatan

“Buah dari permenungan adalah doa.
Buah dari doa adalah iman.
Buah dari iman dalah cinta.
Buah dari cinta adalah pelayanan.
Buah dari pelayanan adalah kedamaian”
(Bunda Teresa dari Kalkuta)



Dalam bukunya Cinq Milliards D’Hommes Qui Se Font Peur, Robert de Montvalon menggambarkan betapa manusia dewasa ini dicengkam ketakutan. Manusia takut akan keberadaannya di tengah gelombang kemajuan ilmu dan teknologi. Manusia takut akan kehadiran sesamanya yang setiap saat siap memangsanya, ketika mengalami kebuntuan dan keterhimpitan hidup. Manusia menjadi tidak bebas menjadi dirinya sendiri, apalagi menjadi makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan yang lain. Manusia berkembang dalam ‘kekerdilan’ makna kasih dan sayang

Gambaran di atas seakan-akan menjadi nyata dewasa ini, ketika kita menyaksikan aneka tindak kekerasan bahkan pembunuhan terjadi di depan mata kita. Kita tidak bisa berkelit, manakala ancaman dehumanisasi kian mengancam dan nyata. Kita tidak bisa menghindari, betapa kasih, perhatian, cinta dan persaudaraan kian ter-erosi oleh egoisme dan sukuisme. Kita semakin terancam oleh bangkitnya kelompok-kelompok fundamental atas nama agama, sehingga menghalalkan segala cara untuk menjauhkan orang lain dari kelompoknya. Selain itu, yang lebih sadis dan mengerikan adalah terjadinya pengucilan terhadap korban-korban penyakit HIV/AIDS dalam masyarakat.

Menghadapi kenyataan-kenyataan yang miris dan menyayat hati di atas, sebagai orang Kristiani kita perlu bertanya diri, dapatkah iman Kristiani memancarkan cahaya bagi hidup manusia (orang-orang yang sedang menderita) yang penuh kegelapan? Dapatkah iman kita membebaskan manusia dari kegelapan dan ketakutan batin akibat ulahnya sendiri? Dapatkah penderitaan mereka menjadi tebusan bagi kita semua? Iman kita adalah iman yang membebaskan, iman yang menyelamatkan, iman yang mampu meretas segala sekat ketakutan dan membangunnya dengan suasana yang ceria, damai, penuh kasih sayang. Iman yang membebaskan ini mampu membawa kita pada kesaksian bahwa kita turut berpartisipasi dalam karya penebusan Sang Guru.

Yesus sendiri telah menegaskan kepada kita, “ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara kamu mengunjungi Aku. Sebab Aku berkata kepadamu sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat 25:35-36, 45). Inilah suatu identifikasi empatis bersama mereka yang paling hina dan menderita sebagai etika pelayanan kristiani yang berporos pada Kristus. Suatu pelayanan yang tidak membiarkan korban “terlempar” dalam kegersangan cinta dan kasih.

Kiranya permenungan Bunda Teresa di atas menginspirasi kita untuk mengungkapkan doa-doa kita secara nyata. Doa yang bergema dalam kehidupan nyata adalah doa yang bertolak dari kehidupan itu sendiri. Doa yang indah hanya bisa diwujudkan dalam perbuatan kasih dan pelayanan kepada sesama. Berkat doa yang demikianlah, Bunda Teresa telah mampu melakukan perbuatan kasih terhadap ribuan umat manusia di Kalkuta, India.


Ya Tuhan, Engkau tahu betapa dewasa ini
dunia dipenuhi dengan aneka perbuatan
yang mengikari kasih dan nilai-nilai kebenaran.
Betapa banyak manusia berlomba-lomba untuk saling meniadakan.
Mereka melupakan Dikau.
Bantulah kami untuk mampu meneladan Bunda Teresa
yang selalu menunjukkan persatuan mesra
dengan PutraMu dan Dikau sendiri.
Biarlah semangat doa
dan perbuatan kasih bunda Teresa
menginspirasi hidup kami.


“Barangsiapa tidak mengasihi,
ia tidak mengenal Allah,
sebab Allah adalah kasih”
(1Yoh 4:8)


“Ya Bapa, Aku mau supaya di manapun Aku berada,
mereka juga berada bersama-sama dengan Aku,
mereka yang telah Engkau berikan kepadaKu,
agar mereka memandang kemuliaanKu,
sebab Engkau telah menghasihi Aku
sebelum dunia dijadikan”(Yoh 17:24)

Minggu, 22 Juni 2008

Serial Makin Bijak

Layang-layang Allah

“Tidak mungkin menjadi seseorang yang lain pada saat kita mulai berdoa, tapi dengan terus mengamati angan-angan, seseorang perlahan-lahan belajar membedakan nilai-nilai mereka. Dalam hidup kita sehari-hari, kadang kita memupuk angan-angan yang tidak dapat ditekan terlontar ke luar pada saat berdoa. Doa, sebaliknya akan mengubah dan memperkaya hidup kita sehari-hari, menjadi dasar dari suatu hubungan yang baru dan nyata dengan Allah dan dengan sekeliling kita” (Anthony dari Sourozh)



Pernahkah Anda melihat layang-layang atau malah pernah memainkannya? Sebenarnya layang-layang terdiri dari beberapa elemen: benang, kertas berwarna, lidi. Dan layang-layang hanya bisa terbang oleh dan karena angin. Sebab tanpa angin sebuah layang-layang belum bisa dikatakan sebagai layang-layang. Ia baru merupakan sebuah model atau sesuatu yang serupa dengan layang-layang. Layang-layang yang sebenarnya adalah yang diterbangkan oleh angin atas bantuan seutas tali dan dikontrol oleh tangan manusia (yang memainkannya)

Dalam perjalanan hidup kita (saya khususnya), saya sering begitu yakin dengan kemampuan diri. Saya sangat membangga-banggakan diri bahwa saya bisa tanpa bantuan orang lain. Saya sering berprinsip: "kalau saya bisa dan mampu, mengapa harus merepotkan dan melibatkan orang lain". Saya kadang lupa diri sedang berada di mana dan di antara siapa. Saya kurang terbuka dengan sesama dan menganggap diri bisa. Karena bagi saya kepandaianku bukan diukur dengan nilai berapa/apa yang saya peroleh, tetapi bagaimana saya bisa menekuni sebuah proses pencarian (entah untuk menuju nilai itu atau menuju proses pengolahan setiap hal yang digeluti). Dengan ini saya sebenarnya menutup diri ke arah perkembangan. Saya cepat berpuas diri. "Untuk apa orang lain, wong saya sendiri saja bisa kok?"

Seperti layang-layang yang tidak bisa berbuat apa pun tanpa angin, saya pun demikian tidak bisa berbuat apa pun tanpa Tuhan. Dialah yang menggerakkan saya untuk hidup dan terbang dalam melakukan kehendakNya. Dialah yang menggerakkan saya untuk setia memuji dan memuliakanNya. Dialah yang menggerakkan saya untuk senantiasa menyadari diri sebagai orang yang tidak sempurna, lemah, berdosa, dan rapuh. Dialah yang senantiasa menggerakkan saya untuk selalu mengarahkan diriku padaNya, selalu dalam kebahagiaan dan kemalangan yang saya alami.

Kesadaran demikian hanya bisa diperoleh dalam doa. Dalam doa, saya bisa melihat diriku yang sombong, rapuh dan ragu-ragu. Diriku yang mau menang sendiri. Diriku yang sok kuat kuasa. Saya melihat diriku sebagai pribadi yang arogan, tidak saja terhadap diri sendiri tetapi kepada sesama dan terutama kepada Allah. Ya saya seorang yang congkak dan kurang rendah hati, curiga dan selalu dalam keadaan. Dalam doalah saya membangun kembali relasi yang dengan Allah yang terbutus akibat dosa. Dalam doa, saya sungguh menyadari diri dan mau bertobat atau berbalik kepada Allah. Memang...alangkah baiknya kita senantiasa melatih diri dan berkanjang dalam doa untuk bersatu dan bersama Tuhan.



Ya Tuhan...
Kadang aku kehilangan kendali dan harapan dalam hidupku.
Aku seakan terlepas darimu
seperti layang-layang yang putus talinya.
Kuatkanlah selalu pengharapanku,
bahwa dalam situasi dan kondisi apapun
Engkau senantiasa bersegera menolong aku.


“Ya Allah, bersegeralah menolong aku,
Tuhan perhatikanlah hambaMu ini.”

“Sungguh Dialah yang akan melepaskan engkau
dari jerat perangkap burung,
dari penyakit sampar yang busuk.
Dengan kepakNya Ia akan melindungi engkau,
di bawah sayapNya engkau akan berlindung,
kesetiaaNya ialah perisai dan pagar tembok.
(Mzm 91:3-4)