Jumat, 23 Mei 2008

PERBUATAN KASIH

Perbuatan kasih
“Lebih baik dibenci karena sesuatu yang betul-betul kita perbuat, daripada dielu-elukan karena hal yang tidak pernah kita lakukan” (Andre Gide)
Fredo Benedict



Kita seringkali tertarik, terpesona, senang, kagum dengan hal-hal yang indah, bagus dan menyenangkan. Kita sering merasa terpukau dan terpaku pada hal-hal lahiriah yang hebat dan prestisius atau artifisial. Kita menjadi sangat bangga bahkan menyombongkan diri, kalau mengalami atau memiliki hal-hal itu. Bahkan tidak jarang banyak orang begitu terobsesi untuk berbangga dengan hal-hal itu tanpa harus berbuat sesuatu yang prestisius itu. Banyak orang ingin dipuji-puji ketika melakukan suatu karya amal. Mereka begitu berbangga kalau apa yang mereka lakukan (meski bukan mereka lakukan secara langsung) dilihat, diekspos media massa. Apapun yang mereka lakukan haruslah selalu diketahui umum. Mereka senantiasa menuntut penghargaan dari orang lain, bahwa yang mereka lakukan adalah karya-karya amal yang humanis. Mereka ibarat nabi-nabi palsu yang mewartakan dirinya sendiri.

Padahal yang dikendaki Allah adalah apa yang kita lakukan kepada salah seorang yang paling hina sekalipun, kita melakukannya untuk Dia. Dan...apapun yang dilakukan tangan kananmu, jangan sampai diketahui oleh tangan kirimu. Jadi, Allah selalu menghendaki kita berbuat, berbuat dan berbuat kasih, melayani, melayani dan melayaniNya dengan penuh kasih, tanpa pamrih, tanpa batas, tanpa harus digembar-gemborkan, agar kita layak dinilai pandai berbuat kasih. Kita berbuat kasih bukan untuk mencari nama dan popularitas, tetapi sudah kewajiban kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan untuk saling memperhatikan dan melayani....sebab kataNya, “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani”, dalam keheningan dan kesepian tanpa berita...



Ya Tuhan, sering aku ingin dipuji dan disanjung
atas segala hal yang kulakukan.
Kadang aku menuntut agar orang menghargai setiap usahaku
meski yang kulakukan semata-mata demi
kemuliaan dan pujian diri...
Tuhan, bantulah aku untuk selalu
berbuat kasih dan mengasihi sesama
dengan kasihMu.


“Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”
(Yak 2:26)

“Segala jalan orang adalah bersih
menurut pandangannya sendiri,
tetapi Tuhan yang menguji hati”
(Ams 16:2)

HIDUP BUKAN SOAL SELERA

Hidup bukan soal SELERA
“Berdoa adalah mengarahkan seluruh diri kita kepada Allah, dan menetap di sana” (Anonim)
Fredo Benedict



Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah, Tuhan kita dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu manusia harus mempergunakannya, sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari ciptaan lain tersebut sejauh itu merintangi dirinya. Oleh karena itu, kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh kita bebas memilih terhadapnya dan tidak ada larangan.

Maka dari itu dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan kehormatan lebih daripada penghinaan hidup panjang lebih daripada hidup pendek. Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan. (Ignasius Loyola)

Tuhan menciptakan semata-mata sebagai anugerah untuk kita. Kita sama sekali tidak memilih untuk diciptakan atau hidup...kita hanya berkewajiban menjalani hidup yang sudah dianugerahkan Allah pada kita. Maka kita wajib bertanggungjawab atas anugerah itu...tidak memilih sesuai selera, tetapi menjalani semuanya dengan penuh iman dan keterarahan seluruh diri menuju Ke Sana.



Ya Tuhan kadang aku begitu gelisah dengan hidupku.
Aku merasa banyak hal yang tidak sesuai dengan seleraku,
padahal, hidup ini bukan soal selera
tetapi anugerah terindah darimu
yang harus kusyukuri dan jalani
dengan penuh tanggungjawab.


"Janganlah gelisah hatimu;
percayalah kepada Allah,
percayalah juga kepada-Ku”
(Yoh 14:1)

“Berkat kasih setia-Mu yang besar,
aku akan masuk ke dalam rumah-Mu,
sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau.
TUHAN, tuntunlah aku dalam keadilan-Mu karena seteruku;
ratakanlah jalan-Mu di depanku” (Mzm 5:8-9)

Kamis, 22 Mei 2008

SELAMATKAN BUMI DARI DIRI SENDIRI

Selamatkan bumi mulai dari diri sendiri
Freddy Benoit


Fakta yang Memilukan

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan mengutip sebuah puisi yang sangat inspiratif karya Edwin Markham berjudul Man Making sebagai berikut: “Kita semua buta kalau tidak melihat / bahwa dalam rencana manusia / tiada yang berharga dibangun / kalau manusia tidak dibangun. // Buat apa membangun kota-kota megah / di kala manusia tetap tidak dibangun? / segala pembangunan akan sia-sia / kecuali apabila manusia pembangunnya tumbuh pula. //

Puisi di atas menjadi semacam ironi bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia ketika di satu sisi gencar melakukan pembangunan fisik di mana-mana, sementara di sisi lain, sumberdaya manusianya tidak dipersiapkan dengan baik. Akibatnya, hasil-hasil pembangunan lebih sebagai hasil proyek, bukan sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat. Bahkan demi mengejar keuntungan bisnis yang sebesar-besarnya manusia bertindak semena-mena terhadap alam. Lihatlah, demi membuka lahan kebun kelapa sawit, orang nekat menebang dan membakar ribuan hektar hutan, demi keuntungan ekonomis dalam waktu singkat, orang nekat melakukan illegal logging, mengeruk pasir di pinggir pantai untuk diekspor ke Singapura sehingga menyebabkan abrasi yang merugikan masyarakat banyak dan berkurangnya daratan wilayah Indonesia.

Kalau kita berbicara tentang pembangunan selalu saja menarik dan aktual. Menarik karena pembangunan terus terjadi dan berlangsung setiap hari. Aktual karena hidup dan proses kehidupan manusia tidak terlepas dari proses membangun baik secara material maupun spiritual, untuk mengembangkan suatu tatanan kehidupan personal dan komunal yang lebih baik. Dalam rangka itu, setiap model atau bentuk pembangunan selalu mengakibatkan kemajuan, kesejahteraan di satu pihak dan kemunduran, kemiskinan bahkan kehancuran di lain pihak. Dan kemajuan atau kemunduran, kesejahteraan atau kemiskinan selalu berkaitan dengan manusia yang terlibat dalam proses pembangunan, baik sebagai subjek pelaksana maupun sebagai subjek penderita/korban.

Kalau kita mau jujur, harus diakui bahwa akhir-akhir ini, terdapat banyak pelanggaran yang tersistematisasi dengan baik, yakni pelanggaran terhadap UUD 1945 Pasal 33 ayat 1: “bumi dan segala isinya dikelola oleh negara demi kesejahteraan seluruh warga.” Entah sadar atau tidak, entah motif politis atau ekonomis, orang begitu sewenang-wenang menerjemahkan isi pasal UUD tersebut di atas. Buktinya pengolahan, pemakaian serta keuntungannya bagi para pejabat dan kaum bermodal. Kekayaan hutan dibabat dengan menggunakan “kunci” HPH, Reboisasi, Peremajaan Hutan, dll. Kekayaan Alam di Papua dikeruh habis-habisan, pengurasakan hutan seluas 12.000 hektar di Kabupaten Bintan, sementara rakyat di Papua dan Bintan tetap miskin, penggalian isi bumi yang tidak profesional sehingga Lumpur Lapindo di Sidoarjo Jawa Timur menenggelamkan hampir beberapa kecamatan, tidak kunjung ada titik terang penyelesaiannya, dan masih banyak contoh lainnya.

Pembangunan Memanusiakan Manusia dan Alam

Sudah sepatutnya manusia melakukan pembangunan demi perikehidupan yang lebih baik dan sejahtera. Tetapi perlakuan manusia itu (baca membangun) hendaknya tidak hanya mempertimbangkan aspek-aspek ekonomis dan kesejahteran manusia tetapi patut mempertimbangkan juga aspek kelestarian alam. Sebab manusia tidak bisa hanya menekankan salah satu aspek (kemajuan dan kesejateraan) namun mengabaikan aspek kelestarian alam bagi generasi yang akan datang. Keseimbangan antaraspek inilah yang menjadi urgensi pembangunan berkelanjutan. Urgensitas pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memperhitungkan masa 10, 20 bahkan ribuan tahun ke depan. Dan keseimbangan di sini tidak semata-mata bahwa baik secara ekonomis maupun ekologis tidak mengalami kerugian. Tetapi terutama pada sikap dan kesadaran manusia bahwa membangun bukan hanya demi kesejateraan ekonomis saat ini, tetapi membangun juga berarti mewariskan kepada generasi yang akan datang apa yang bukan milik kita saat ini, seperti hutan yang telah kita terima dari generasi terdahulu, kekayaan bumi yang telah diwariskan perut bumi selama ribuan tahun, dll.
Pembangunan sebuah bangsa memang suatu keharusan demi hajat hidup orang banyak. Tetapi perilaku kita membangun perlu diatur agar kita tidak bersikap serakah dan merasa bumi ini semata-mata milik kita saat ini. Memang harus diakui bahwa keberhasilan suatu pembangunan sangat ditentukan oleh setiap kebijakan, moral dan etos kerja para penguasa negara (birokrasi pemerintahan) dan keterlibatan semua pihak (masyarakat). Barometer yang mengukur keberhasilan suatu pembangunan tidak hanya terletak dalam kemajuan fisik (yang artifisial dan ekonomis) tetapi terutama kemajuan akan pengakuan martabat manusiawi juga perlakuan yang adil atas “martabat” bumi dalam kemajuan tersebut. Bila, suatu pembangunan menimbulkan ekses negatif baik bagi manusia maupun bagi alam/bumi itu berarti pembangunan tidak berorientasi pada pengakuan martabat manusia dan bumi. Pembangunan yang tidak peduli, tidak adil dan yang memiskinankan telah menyeleweng dari hahikatnya yakni memanusiakan manusia sekaligus menempatkan derajat bumi sebagai “bunda/ibu” pertiwi. Sebagaimana manusia yang dihormati harkat dan derajat kemanusiaannya karena dia makhluk berbudi dan berhati (nurani), bumi pun patut dihormati derajat dan martabatnya karena bumi telah melahirkan dan menjadi sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Bumi telah menjadi ranjang abadi bagi segala komponen lainnya di atasnya.

Pembangunan berkelanjutan yang berhasil adalah pembangunan yang mampu membangkitkan daya masyarakat secara otonom sebagai subjek pembangun. Sebagai subjek berarti manusia memiliki daya-daya kreasi dan hormat sejak awal rencana pembangunan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi maupun penikmatan hasil-hasilnya. Pemberdayaan (empowerment) manusia tidak hanya pada konteks ekonomi, tetapi juga pada aspek lain dari keseluruhan pribadi manusia, baik politik, sosial, ekologi, agama dan kebudayaan. Pemberdayaan masyarakat merupakan pengakuan akan harkat dan martabat manusia juga martabat bumi dalam pembangunan sekaligus membangkitkan harga diri dan prestasi masyarakat dan bumi berupa kelestarian. Akan tetapi upaya pembedayaan masyarakat itu tidak mengandung arti meng-objek-kan masyarakat (bdk. Kompas, 1 Juni 2001) maupun mengobjekkan alam. Pemberdayaan berarti menempatkan baik manusia -pelaku pembangunan- maupun bumi -yang seringkali menjadi objek pembangunan- pada konteks yang akan datang. Artinya baik manusia maupun bumi, bukan hanya demi hari ini, tetapi demi masa depan.

Pembangunan untuk memanusiakan manusia perlu keterlibatan aktif, sehat, dinamis dan dituntun oleh nurani (moral dan etika) yang bersih dari semua pihak yang terlibat di dalamnnya. Setiap orang perlu diberi iklim yang kondusif untuk mengembangkan perannya dalam pembangunan. Untuk mensukseskan pembangunan dimaksud maka negara, birokrasi pemerintahan dan semua komponen yang terlibat perlu meratifikasi dan merenovasi diri. Artinya komponen-komponen pengambil kebijakan ini harus lebih konsisten dan konsekuan dengan kepercayaan (mandat) yang diberikan masyarakat padanya. Negara (para pejabat eksekutif dan legislatifnya) bukan saja penganjur, pembicara, pencetus ide, tetapi pelaksana (yang bermoral dan bernurani) setiap programnya. Sehingga dengan demikian pembangunan tidak hanya dipandang dari segi-segi ekonomi belaka, melainkan membangun kehidupan yang lebih pantas melalui kerja, meningkatkan secara konkret martabat dan kreativitas setiap individu/masyarakat. Jadi ratifikasi dan renovasi diri adalah internalisasi nilai-nilai kemanusian dan ‘kebumian’ yang kita hayati dan wariskan demi generasi manusia dan manusia yang akan datang. Bagaimana ratifikasi dan renovasi diri demi penyelamatan bumi harus dimulai?

Penyelamatan Mulai Dari Diri Sendiri

Cuplikan puisi diawal tulisan ini seakan menyetak kesadaran kita untuk segera bangun dari tidur, dari kemasabodohan, dari sikap semena-mena dan egoisme diri dalam bingkai politis dan bisnis yang suka menghalalkan segala cara. Puisi di atas mendorong kita untuk berani instrospeksi diri, masuk ke dalam diri dan melihat secara jujur sikap-sikap kita yang tidak bertanggungjawab dalam pembangunan, khususnya dalam memperlakukan bumi.

Kesadaran tentang pentingnya menyelamatkan bumi, atau kesadaran tentang pentingnya hari bumi (earth day) menumbuhkan integritas diri kita untuk turut bertanggungjawab atas kelestarian bumi. Integritas diri ini menjadi suatu cara baru (a new way) dalam memandang dan memperlakukan alam. Manusia dengan segala kemajuan ilmu dan teknologinya tidaklah lebih superior dari alam dan sebaliknya alam tidaklah lebih inferior dari manusia. Manusia dan bumi adalah sama-sama menjadi “ibu” untuk generasi dan masa yang akan datang. Dan untuk menjadi “ibu” bagi generasi dan masa depan itu, bisa dimulai dari diri masing-masing.

Setiap orang (termasuk setiap kebijakan politis dan ekonomis suatu negara) dapat menjadi “ibu” yang melahirkan dan menyelamatkan keturunan (manusia dan bumi) di masa depan. Bagaimana ia menjadi ibu? Secara manusiawi sudah jelas bahwa cinta adalah dasar dari segalanya. Sedangkan “ibu” bagi bumi berarti tanggungjawab, penghormatan dan perlakuan yang adil terhadap kelestarian bumi dimulai dari diri sendiri. Setiap kita, bisa mulai melestarikan bumi yang ramah dan bersahabat dengan manusia dengan cara menjaga lingkungan tempat tinggal kita tetap lestari dan indah. Setiap kita patut menekan segala nafsu yang merusak dan ingin menundukkan alam demi tujuan ekonomis yang diperkuat oleh perangkat-perangkat politis yang merusak kelestarian bumi. Segala kerusakan dimulai dari nafsu yang ada dalam diri. Dan setiap nafsu (menundukkan dan merusak alam) hanya bisa ditundukan oleh kita sendiri. Untuk mengurangi rasa panas (akibat global warming), saya dan keluarga mulai dengan menanam aneka tanaman (seperti pepaya, singkong, mahkota dewa dan aneka bunga lainnya) yang bisa memberi kesejukan. Lingkungan yang sejuk akan memberikan kesejukan dalam hati. Hati yang sejuk akan memberikan kesejukan antarpribadi. Kesejukan antarpribadi akan meningkatkan kesejukan antarbangsa. Kesejukan antarbangsa akan melestarikan kemanusiaan kita dan kebumian bumi ini. Dan keselestarian itu akan membuat pembangunan (sama dengan kehidupan) akan terus berlangsung sehingga terciptalah masyarakat dunia khususnya Indonesia yang lebih sejahtera dengan kepedulian pada lingkungan.

Mari, mulailah dari diri sendiri sedini mungkin!!