Selasa, 27 Mei 2008

Aids dan Solidaritas Kristiani

AIDS DAN SOLIDARITAS KRISTIANI

Lunglai terkapar badan itu,
Lemas tergeletak tak berdaya
Bersama sisa-sisa harapan yang kuatkan tekad
Untuk tetap hidup normal dalam kasih dan perhatian



Beberapa hari ini saya sedang mengedit sebuah naskah yang ditulis oleh P. Lambertus Somar, MSC berjudul, “Merawat Penderita AIDS di Rumah”. Membaca naskah itu - yang ditulis oleh seorang Pastor yang terlibat aktif dalam Yayasan Kasih Mulia, sebuah Lembaga yang bergerak dalam program-program penyuluhan bagi anak-anak dan orangtua serta program-program rehabilitasi - membuat saya terkenang akan sebuah pengalaman pendampingan lintasagama dalam sebuah workshop beberapa tahun lalu di Ashram Gedong Gandhi, Candi Dasa, Bali. Dalam suatu kesempatan kami menghadirkan seorang penderita AIDS dan mendengarkan kisahnya. Kisah yang pernah disampaikan sekian tahun lalu itu menggugah saya untuk menulis permenungan berikut ini dan men-share-kannya kepada Anda. Sebelumnya, perlu saya tegaskan disini, pengalaman penderita AIDS hanyalah salah satu dari aneka pengalaman lain dalam masyarakat, khususnya dengan kenaikan BBM (dan kebutuhan hidup lainnya), saya yakin makin banyak persoalan yang menggugah kita (para agamawan ini) untuk makin terlibat (mewujudkan iman) memberikan pelayanan konkret.


Dewasa ini, seiring perkembangan ilmu dan teknologi, di satu pihak berkembang aneka persoalan sosial yang membutuhkan penanganan yang serius, cepat namun manusiawi. Sementara itu, di pihak lain, semakin banyak pula generasi muda yang menjadi korban narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang) dan HIV/AIDS. Sadar atau tidak, cepat atau lambat, kita akan menjumpai kenyataan lost generation. Kondisi seperti ini tidak bisa didiamkan terus-menerus. Adalah tantangan bagi semua pihak untuk mengambil sikap secara bijaksana dan secara konkret mewujudkannya dalam gerakan saling membahu. Persoalannya bukan sekedar membongkar pemahaman yang keliru mengenai HIV/AIDS dan narkoba tetapi menyangkut pola dan gaya hidup yang telah merasuk dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Kita perlu mengkaji pola dan gaya hidup tersebut agar generasi muda kita tidak menjadi ‘generasi yang hilang’. Sebuah generasi yang “mati” karena tercampak dalam persaingan “bisnis” global yang menggiurkan, sebuah jaringan bisnis yang terlarang, namun terlaris. Sebuah generasi yang “kehilangan” sentuhan kasih dan perhatian dari sesamanya, akibat dikucilkan dan dijauhkan dalam masyarakat, karena dianggap membawa aib dan petaka.

Siapakah yang harus peduli dengan persoalan-persoalan semacam ini? Siapakah yang harus bertanggungjawab untuk menghindarkan generasi muda dari aneka bahaya? Lembaga manakah yang paling mumpuni untuk meng-entas­-kan generasi muda dari suatu “kematian” yang sia-sia? Bagaimana sikap dan reaksi kita apabila para penderita itu adalah anggota keluarga kita sendiri? Siapkah kita, bila lost generatian itu benar-benar menimpa masyarakat kita? Di manakah peran keluarga? Di manakah peran lembaga-lembaga adat dan agama?

Saya teringat akan suatu pengalaman ketika mendengarkan testimoni seorang penderita HIV/AIDS dalam workshop itu. Testimoni yang sungguh-sungguh menggugah dan menyentuh hati. Betapa mereka menderita bukan saja karena penyakit yang dideritanya, tapi terutama karena mereka dijauhi dari lingkungan keluarga dan orang-orang terdekat mereka. Kenangan akan testimoni itu sangat membekas dalam ingatan saya, sehingga saya berani mengatakan bahwa persoalan HIV/AIDS dan narkoba bukan hanya persoalan para korban, tetapi persoalan kita bersama, termasuk lembaga-lembaga agama dan adat. Sebagai persoalan bersama, kita patut bertanya, di manakah peran kita? Di manakah sesungguhnya peran lembaga agama dan adat?

Saya berpikir bahwa tidak mungkin AIDS menimpa keluarga saya dan saya sangat tidak percaya karena keluarga saya adalah keluarga yang baik-baik. Saya diberikan obat dan dibilang obat itu adalah untuk kesehatan janin saya padahal untuk mengobati penyakit yang saya derita yaitu AIDS. Akhirnya di situ diiinformasikan tentang AIDS dan saya sudah terinfeksi. Saya sampaikan bahwa saya tidak mungkin tertular AIDS. Saya anggap bahwa dokter itu bohong. Informasi yang diberikan itu tidak satupun yang saya percayai dan saya menyuruh agar tidak menginformasikan ke keluarga saya namun saya tidak tahu bahwa keluarga saya sudah tahu duluan mengenai masalah saya tersebut. Saya berusaha menghindari masalah yang menimpa saya itu dan ada keinginan untuk bunuh diri, tutur seorang penderita putri dengan nada iba

Selama ini informasi yang beredar dalam masyarakat adalah, para penderita AIDS adalah orang yang berperilaku seksual menyimpang. Bahkan yang lebih parah, sebagian masyarakat menganggap bahwa penderita AIDS adalah kutukan Tuhan, pembawa malapetaka dan aib dalam masyarakat. Para penderita seringkali menolak dan menyangkal bahwa mereka sudah terkena AIDS. “Saya tidak tahu apa itu homo, apa itu lesbi. Saya merasa bukan bagian dari perilaku aneh dan menyimpang. Suami saya yang terlibat tersebut gejalanya adalah badannya sangat panas. Sempat saya ke dukun dan dibilang saya hamil sudah tiga bulan. Namun begitu lama-lama akhirnya saya tahu bahwa saya adalah penderita AIDS. Sehingga dalam keluarga saya sering dikucilkan dan tidak ada yang mau makan dengan saya. Dari itupun saya belum tahu bahwa saya sudah menderita AIDS. Ternyata informasi itu lebih banyak ke mertua saya dan saya sama sekali tidak tahu bahwa sudah tertular”, kisahnya dengan lega karena ada yang mau mendengarkan deritanya.

Kini, penyakit AIDS dan Narkoba sudah mewabah sedemikian luas hampir di seluruh pelosok tanah air. Kota-kota besar di tanah air kian “berlomba” siapa yang menjadi “juara” dalam statistik penderita penyakit ini. Kita tidak bisa tidak harus segera berbuat sesuatu agar kehidupan sosial kita tidak semakin rentan terhadap aneka pengaruh negatif tanpa filter yang cukup. Ikatan-ikatan sosial kekeluargaan ‘terancam’ putus oleh rundungan anek virus yang mematikan dalam masyarakat. Masyarakat menjadi kehilangan solidatas dan persaudaraan karena rasa curiga dan ketakutan. Akibatnya semakin banyak penderita baik karena penyakit akibat virus/kuman maupun akibat dikucilkan dalam masyarakat.

Bagaimana lembaga-lembaga agama mewujudkan kepeduliannya kepada para penderita? Kini sudah saatnya Gereja berpihak kepada para penyalahguna narkoba dan penderita AIDS. Keberpihakan itu diwujudkan dalam berbagai bidang usaha untuk menanggapi permasalahan HIV/AIDS dan narkoba secara serius. Bidang-bidang itu meliputi pencegahan, perawatan pendampingan psikologis, sosial dan spiritual. Untuk itu dibutuhkan solidaritas global untuk mengembalikan martabat manusia sebagai pembangun kebudayaan hidup. Upaya gereja tersebut hasruslah merupakan usaha penuh cinta kasih kepada sesama terutama yang berada dalam kondisi tidak menguntungkan agar mampu berkembang sebagai manusia yang bermartabat di hadapan Allah. Hal itu dapat dilaksanakan dengan dua cara, pertama terciptanya masyarakat basis multikultural yang berhati nurani. Dalam masyarakat yang demikian, setiap identitas agama tidak berhenti pada simbol melainkan pada sikap hidup, tindakan yang santun dan mau menerima penderita sebagai bagian dari tanggungjawab bersama. Kedua, mengembangkan cara berpikir dan hati nurani yang baru. Dalam kondisi masyarakat sekarang ini, setiap orang beriman mesti terlibat lebih penuh dalam kehidupan bermasyarakat. Keterlibatan itu terfokus pada transformasi sosial dan kultural yang efektif, yakni sebagai penabur kasih dan pelaku budaya kehidupan.

Selain itu, upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS harus dilakukan secara bersama-sama dan bersinergi oleh seluruh komponen masyarakat dengan mengedepankan nilai-nilai moral atau nilai-nilai kemanusiaan yang bersumber dari ajaran agama. Pendekatan-pendekatan manusiawi harus terus digalakkan untuk mendekati para penderita. Mereka jangan dijauhkan tetapi harus dirangkul dalam kasih serta diberi semangat untuk terus hidup dalam keterbatasan dan kesakitan yang dialami tersebut. Janganlah penderitanya dijauhi, tapi bagaimana semua orang berupaya untuk menjauhkan penyakit (narkoba dan HIV/AIDS) dari kehidupan sosial. Maka upaya-upaya kemanusiaan yang dilakukan agama-agama kepada para penderita adalah pertama-tama memberi pemahaman bahwa epedemik HIV/AIDS dan narkoba bukanlah kutukan Allah, tetapi resiko dari kebebasan manusia yang hidup dalam dunia yang menderita dan sakit. Manusia akan selalu terjebak dan dijebak dalam lilitan itu. Dan untuk mengeluarkannya dari belitan tersebut hanyalah kasih dan pengampunan Allah sajalah yang sanggup mengalahkan maut dan membangkitkan manusia dari keterpurukannya.

Berhadapan dengan berbagai persoalan sosial, agama-agama (melalui para pemimpinnya, imam, bruder dan susternya) perlu melakukan sesuatu secara konkret. Beragama tidak sebatas tempat-tempat suci yang bersifat ritual dan rutin. Tetapi (ber) agama-agama perlu menemukan cara pendekatan baru yang lebih menyentuh permasalahan sosial, apalagi sekarang dengan kenaikan BBM, permasalahan yang dihadapi masyarakat makin kompleks. Kini, agama-agama harus tampil untuk membela para korban, bukan malah menjauhi apalagi memanfaatkan situasi “terdesak” masyarakat. Agama(wan) harus berani tampil meneriakan pekik pembebasan agar masyarakat bisa survive dengan kehidupan mereka yang kian sulit itu. Beragama secara aktual berarti mampu melakukan sesuatu secara nyata bagi sesamanya. Beragama berarti menyelamatkan kehidupan dari ancaman kepunahan dan kehancuran yang sia-sia, dari ketiadaan kasih, dari kegersangan nurani. Beragama secara nyata berarti melayani Tuhan dalam diri mereka yang lemah dan menjadi korban di hadapan kita.

Sebagai orang kristiani, bukankah Yesus sendiri telah menegaskan bahwa ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara kamu mengunjungi Aku. Sebab Aku berkata kepadamu sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Mat 25:35-36, 45). Inilah suatu identifikasi empatis bersam mereka yang paling hina dan menderita sebagai etika pelayanan kristiani yang berporos pada Kristus. Suatu pelayanan yang tidak membiarkan korban “terlempar” dalam kegersangan cinta dan kasih.