Senin, 26 Mei 2008

Tuhan selalu mahamurah

Tuhan selalu Mahamurah
Fredo Benedict


Manusia selalu punya keinginan dan kebutuhan, yang tidak jarang sulit dibedakan. Kadang keinginan dilihat sebagai kebutuhan, tetapi jarang kebutuhan dilihat sebagai keinginan. Demikian juga dalam berdoa. Tidak jarang orang menyampaikan doa-doa permohonan karena ingin itu...ingin ini...tanpa menyadari apakah yang didoakan itu sesuai dengan kebutuhan atau tidak.

Ketika sebuah doa tidak segera dikabulkan, orang lalu merasa Tuhan tidak mendengarkan kebutuhannya. Padahal....sesungguhnya Tuhan senantiasa mahamurah untuk memberikan sesuatu yang kita butuhkan menurut waktunya...Ya segalanya menjadi indah pada waktunya, berkat kemurahan Tuhan.


“Perasaan paling luhur dan mendalam adalah pengalaman akan Tuhan. Dari pengalaman itu berasal segala ilmu. Siapa saja yang tidak mengenal perasaan ini, siapa saja yang tidak dapat kagum dan tenggelam dalam rasa khidmat, ia sudah mati jiwanya. Pengetahuan bahwa Dia, yang tidak dapat diselidiki sungguh-sungguh ada, dan mewahyukan diri sebagai kebenaran tertinggi dan keindahan yang cemerlang, adalah inti dari agama sejati ...” (Albert Einstein)


Pada tanggal 14 Maret 2000, di sebuah tempat terpencil di pedalaman Madagascar saya dan pastor pembimbing saya mengalami kecelakaan mobil. Memang waktu itu hujan dan angin sangat kencang. Jalanan yang aslinya memang tanah liat menjadi berlumpur dan licin. Mobil hanya bisa berjalan pelan (10 km/jam). Ketika sampai pada jalanan yang agak menurun, ban mobil tidak bisa berputar lagi. Tetapi mobilnya terus meluncur karena tanah liatnya licin. Sopir (pastor itu) tidak mengerem, tetapi membiarkan sambil memutar stir ke arah tebing. Kejadian itu begitu cepat, tiba-tiba mobil menabrak tebing lalu berhenti. Kepala kami terbentur tapi tidak mengalami cedera. Kami segera berpelukan dan menangis serta spontan berterima kasih pada Tuhan. Sebab kalau mobil meluncur ke arah jurang (kurang lebih 25 meter) maka cerita ini tidak akan sampai di tangan Anda.

Yang penting di sini bukan selamatnya kami dari kecelakaan, tetapi pada kemurahan Tuhan membiarkan penyelenggaraan kasihNya nan luhur. Saat itulah kami mengalami keilahianNya, kami tenggelam dalam kekaguman mahadahsyat pewahyuan penyertaanNya yang tidak kelihatan namun sungguh terasa. Dalam pengalaman keterbatasan itu (kecelakaan) mata iman kami terbuka dan tertuju padaNya.

Keilahian Tuhan kadang tampak kepada kita pada saat-saat yang tidak terduga. Dia bisa hadir kapan saja, kadang dalam sepoi angin yang menidurkan, kadang dalam kecelakaan yang menyetak kesadaran iman, kadang kita tangkap sama sekali meski nyata dalam udara yang kita hidup, dalam air yang kita minum, dalam makanan yang kita makan, dst.


Ya Tuhan....kadang maksudMu
sulit dipahami oleh akalbudiku yang terbatas ini.
Engkau senantiasa menyatakan diri dengan caraMu sendiri,
yang sering kurang aku tangkap dan maknai.
Bantulah aku untuk selalu membuka mata imanku
dan melihat segala kemurahanMu dalam
hidupku setiap hari.

“Rabi, betapa bahagianya kami di tempat ini.
Baiklah kami dirikan tiga kemah,
satu untuk Engkau,
satu untuk Musa
san satu untuk Elia” (Mrk 9:5)