Kamis, 22 Mei 2008

SELAMATKAN BUMI DARI DIRI SENDIRI

Selamatkan bumi mulai dari diri sendiri
Freddy Benoit


Fakta yang Memilukan

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan mengutip sebuah puisi yang sangat inspiratif karya Edwin Markham berjudul Man Making sebagai berikut: “Kita semua buta kalau tidak melihat / bahwa dalam rencana manusia / tiada yang berharga dibangun / kalau manusia tidak dibangun. // Buat apa membangun kota-kota megah / di kala manusia tetap tidak dibangun? / segala pembangunan akan sia-sia / kecuali apabila manusia pembangunnya tumbuh pula. //

Puisi di atas menjadi semacam ironi bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia ketika di satu sisi gencar melakukan pembangunan fisik di mana-mana, sementara di sisi lain, sumberdaya manusianya tidak dipersiapkan dengan baik. Akibatnya, hasil-hasil pembangunan lebih sebagai hasil proyek, bukan sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat. Bahkan demi mengejar keuntungan bisnis yang sebesar-besarnya manusia bertindak semena-mena terhadap alam. Lihatlah, demi membuka lahan kebun kelapa sawit, orang nekat menebang dan membakar ribuan hektar hutan, demi keuntungan ekonomis dalam waktu singkat, orang nekat melakukan illegal logging, mengeruk pasir di pinggir pantai untuk diekspor ke Singapura sehingga menyebabkan abrasi yang merugikan masyarakat banyak dan berkurangnya daratan wilayah Indonesia.

Kalau kita berbicara tentang pembangunan selalu saja menarik dan aktual. Menarik karena pembangunan terus terjadi dan berlangsung setiap hari. Aktual karena hidup dan proses kehidupan manusia tidak terlepas dari proses membangun baik secara material maupun spiritual, untuk mengembangkan suatu tatanan kehidupan personal dan komunal yang lebih baik. Dalam rangka itu, setiap model atau bentuk pembangunan selalu mengakibatkan kemajuan, kesejahteraan di satu pihak dan kemunduran, kemiskinan bahkan kehancuran di lain pihak. Dan kemajuan atau kemunduran, kesejahteraan atau kemiskinan selalu berkaitan dengan manusia yang terlibat dalam proses pembangunan, baik sebagai subjek pelaksana maupun sebagai subjek penderita/korban.

Kalau kita mau jujur, harus diakui bahwa akhir-akhir ini, terdapat banyak pelanggaran yang tersistematisasi dengan baik, yakni pelanggaran terhadap UUD 1945 Pasal 33 ayat 1: “bumi dan segala isinya dikelola oleh negara demi kesejahteraan seluruh warga.” Entah sadar atau tidak, entah motif politis atau ekonomis, orang begitu sewenang-wenang menerjemahkan isi pasal UUD tersebut di atas. Buktinya pengolahan, pemakaian serta keuntungannya bagi para pejabat dan kaum bermodal. Kekayaan hutan dibabat dengan menggunakan “kunci” HPH, Reboisasi, Peremajaan Hutan, dll. Kekayaan Alam di Papua dikeruh habis-habisan, pengurasakan hutan seluas 12.000 hektar di Kabupaten Bintan, sementara rakyat di Papua dan Bintan tetap miskin, penggalian isi bumi yang tidak profesional sehingga Lumpur Lapindo di Sidoarjo Jawa Timur menenggelamkan hampir beberapa kecamatan, tidak kunjung ada titik terang penyelesaiannya, dan masih banyak contoh lainnya.

Pembangunan Memanusiakan Manusia dan Alam

Sudah sepatutnya manusia melakukan pembangunan demi perikehidupan yang lebih baik dan sejahtera. Tetapi perlakuan manusia itu (baca membangun) hendaknya tidak hanya mempertimbangkan aspek-aspek ekonomis dan kesejahteran manusia tetapi patut mempertimbangkan juga aspek kelestarian alam. Sebab manusia tidak bisa hanya menekankan salah satu aspek (kemajuan dan kesejateraan) namun mengabaikan aspek kelestarian alam bagi generasi yang akan datang. Keseimbangan antaraspek inilah yang menjadi urgensi pembangunan berkelanjutan. Urgensitas pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memperhitungkan masa 10, 20 bahkan ribuan tahun ke depan. Dan keseimbangan di sini tidak semata-mata bahwa baik secara ekonomis maupun ekologis tidak mengalami kerugian. Tetapi terutama pada sikap dan kesadaran manusia bahwa membangun bukan hanya demi kesejateraan ekonomis saat ini, tetapi membangun juga berarti mewariskan kepada generasi yang akan datang apa yang bukan milik kita saat ini, seperti hutan yang telah kita terima dari generasi terdahulu, kekayaan bumi yang telah diwariskan perut bumi selama ribuan tahun, dll.
Pembangunan sebuah bangsa memang suatu keharusan demi hajat hidup orang banyak. Tetapi perilaku kita membangun perlu diatur agar kita tidak bersikap serakah dan merasa bumi ini semata-mata milik kita saat ini. Memang harus diakui bahwa keberhasilan suatu pembangunan sangat ditentukan oleh setiap kebijakan, moral dan etos kerja para penguasa negara (birokrasi pemerintahan) dan keterlibatan semua pihak (masyarakat). Barometer yang mengukur keberhasilan suatu pembangunan tidak hanya terletak dalam kemajuan fisik (yang artifisial dan ekonomis) tetapi terutama kemajuan akan pengakuan martabat manusiawi juga perlakuan yang adil atas “martabat” bumi dalam kemajuan tersebut. Bila, suatu pembangunan menimbulkan ekses negatif baik bagi manusia maupun bagi alam/bumi itu berarti pembangunan tidak berorientasi pada pengakuan martabat manusia dan bumi. Pembangunan yang tidak peduli, tidak adil dan yang memiskinankan telah menyeleweng dari hahikatnya yakni memanusiakan manusia sekaligus menempatkan derajat bumi sebagai “bunda/ibu” pertiwi. Sebagaimana manusia yang dihormati harkat dan derajat kemanusiaannya karena dia makhluk berbudi dan berhati (nurani), bumi pun patut dihormati derajat dan martabatnya karena bumi telah melahirkan dan menjadi sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Bumi telah menjadi ranjang abadi bagi segala komponen lainnya di atasnya.

Pembangunan berkelanjutan yang berhasil adalah pembangunan yang mampu membangkitkan daya masyarakat secara otonom sebagai subjek pembangun. Sebagai subjek berarti manusia memiliki daya-daya kreasi dan hormat sejak awal rencana pembangunan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi maupun penikmatan hasil-hasilnya. Pemberdayaan (empowerment) manusia tidak hanya pada konteks ekonomi, tetapi juga pada aspek lain dari keseluruhan pribadi manusia, baik politik, sosial, ekologi, agama dan kebudayaan. Pemberdayaan masyarakat merupakan pengakuan akan harkat dan martabat manusia juga martabat bumi dalam pembangunan sekaligus membangkitkan harga diri dan prestasi masyarakat dan bumi berupa kelestarian. Akan tetapi upaya pembedayaan masyarakat itu tidak mengandung arti meng-objek-kan masyarakat (bdk. Kompas, 1 Juni 2001) maupun mengobjekkan alam. Pemberdayaan berarti menempatkan baik manusia -pelaku pembangunan- maupun bumi -yang seringkali menjadi objek pembangunan- pada konteks yang akan datang. Artinya baik manusia maupun bumi, bukan hanya demi hari ini, tetapi demi masa depan.

Pembangunan untuk memanusiakan manusia perlu keterlibatan aktif, sehat, dinamis dan dituntun oleh nurani (moral dan etika) yang bersih dari semua pihak yang terlibat di dalamnnya. Setiap orang perlu diberi iklim yang kondusif untuk mengembangkan perannya dalam pembangunan. Untuk mensukseskan pembangunan dimaksud maka negara, birokrasi pemerintahan dan semua komponen yang terlibat perlu meratifikasi dan merenovasi diri. Artinya komponen-komponen pengambil kebijakan ini harus lebih konsisten dan konsekuan dengan kepercayaan (mandat) yang diberikan masyarakat padanya. Negara (para pejabat eksekutif dan legislatifnya) bukan saja penganjur, pembicara, pencetus ide, tetapi pelaksana (yang bermoral dan bernurani) setiap programnya. Sehingga dengan demikian pembangunan tidak hanya dipandang dari segi-segi ekonomi belaka, melainkan membangun kehidupan yang lebih pantas melalui kerja, meningkatkan secara konkret martabat dan kreativitas setiap individu/masyarakat. Jadi ratifikasi dan renovasi diri adalah internalisasi nilai-nilai kemanusian dan ‘kebumian’ yang kita hayati dan wariskan demi generasi manusia dan manusia yang akan datang. Bagaimana ratifikasi dan renovasi diri demi penyelamatan bumi harus dimulai?

Penyelamatan Mulai Dari Diri Sendiri

Cuplikan puisi diawal tulisan ini seakan menyetak kesadaran kita untuk segera bangun dari tidur, dari kemasabodohan, dari sikap semena-mena dan egoisme diri dalam bingkai politis dan bisnis yang suka menghalalkan segala cara. Puisi di atas mendorong kita untuk berani instrospeksi diri, masuk ke dalam diri dan melihat secara jujur sikap-sikap kita yang tidak bertanggungjawab dalam pembangunan, khususnya dalam memperlakukan bumi.

Kesadaran tentang pentingnya menyelamatkan bumi, atau kesadaran tentang pentingnya hari bumi (earth day) menumbuhkan integritas diri kita untuk turut bertanggungjawab atas kelestarian bumi. Integritas diri ini menjadi suatu cara baru (a new way) dalam memandang dan memperlakukan alam. Manusia dengan segala kemajuan ilmu dan teknologinya tidaklah lebih superior dari alam dan sebaliknya alam tidaklah lebih inferior dari manusia. Manusia dan bumi adalah sama-sama menjadi “ibu” untuk generasi dan masa yang akan datang. Dan untuk menjadi “ibu” bagi generasi dan masa depan itu, bisa dimulai dari diri masing-masing.

Setiap orang (termasuk setiap kebijakan politis dan ekonomis suatu negara) dapat menjadi “ibu” yang melahirkan dan menyelamatkan keturunan (manusia dan bumi) di masa depan. Bagaimana ia menjadi ibu? Secara manusiawi sudah jelas bahwa cinta adalah dasar dari segalanya. Sedangkan “ibu” bagi bumi berarti tanggungjawab, penghormatan dan perlakuan yang adil terhadap kelestarian bumi dimulai dari diri sendiri. Setiap kita, bisa mulai melestarikan bumi yang ramah dan bersahabat dengan manusia dengan cara menjaga lingkungan tempat tinggal kita tetap lestari dan indah. Setiap kita patut menekan segala nafsu yang merusak dan ingin menundukkan alam demi tujuan ekonomis yang diperkuat oleh perangkat-perangkat politis yang merusak kelestarian bumi. Segala kerusakan dimulai dari nafsu yang ada dalam diri. Dan setiap nafsu (menundukkan dan merusak alam) hanya bisa ditundukan oleh kita sendiri. Untuk mengurangi rasa panas (akibat global warming), saya dan keluarga mulai dengan menanam aneka tanaman (seperti pepaya, singkong, mahkota dewa dan aneka bunga lainnya) yang bisa memberi kesejukan. Lingkungan yang sejuk akan memberikan kesejukan dalam hati. Hati yang sejuk akan memberikan kesejukan antarpribadi. Kesejukan antarpribadi akan meningkatkan kesejukan antarbangsa. Kesejukan antarbangsa akan melestarikan kemanusiaan kita dan kebumian bumi ini. Dan keselestarian itu akan membuat pembangunan (sama dengan kehidupan) akan terus berlangsung sehingga terciptalah masyarakat dunia khususnya Indonesia yang lebih sejahtera dengan kepedulian pada lingkungan.

Mari, mulailah dari diri sendiri sedini mungkin!!

Tidak ada komentar: