Iman yang menuntun Budi
“Saya tidak berusaha mengerti apa yang saya percayai, tetapi saya percaya agar saya mengerti” (Anselmus dari Canterbury)
“Saya tidak berusaha mengerti apa yang saya percayai, tetapi saya percaya agar saya mengerti” (Anselmus dari Canterbury)
Pernah suatu ketika, sore hari pada tahun 1997, saat saya sedang bergulat dengan pelajaran Kosmologi, saya hampir putus asa karena tidak segera mengerti apa yang dipelajari. Sudah 2,5 jam saya belajar, tapi tak satu pun yang saya pahami. Ah…mau jadi imam saja belajarnya sulit, bagaimana menjelaskan Tuhan kepada umat? Ternyata mencampur-adukkan antara iman dan pengetahuan membuatku stress. Dalam keadaan stress, saya tinggalkan bahan kuliah kosmologi. Lalu saya berdoa demikian:
Bapa Pencipta dan Penyelenggara alam semesta cinta-Mu padaku abadi selamanya. Aku Kau temukan apa adanya dan Kau limpahkan berkat tiada taranya. Namun Bapa, aku terlalu sombong untuk sadar diri aku terlalu angkuh untuk rendah hati aku terlalu sering ingkar janji. Pagi ini, dalam ruang kapel sunyi Kau menyapaku, Kau sentuh hati ini agar aku belajar pasrah diri di ribaan ilahi. Melalui simbol cecak dan nyamuk Kau tegur aku Kau rengkuh aku bangun lagi menata diri meraih rasa hormat dan cinta membawa kasih dan bakti dalam hidupku nyata.
Bapa...Kau telah menuntunku belajar pada sesama ciptaan-Mu. Kau kuatkan aku yang selalu lemah untuk berani mengakui dan menerima diriku apa adanya juga pada sesamaku tiada pamrih tanpa tuntutan lebih di luar kemampuanku untuk melakukannya. Termasuk tuntunanMu agar aku tidak berusaha memahamiMu tetapi berusaha mengimaniMu sepenuh hatiku. Bapa bantulah aku agar kuat selalu dalam belajar rendah hati dan menaruh sikap percaya pada yang lain, terutama padaMu. Bantulah aku bersikap percaya dan hormat pada sesamaku sebagaimana aku selalu mengakui menerima dan percaya pada-Mu dengan segenap hati. Bapa sertailah dan kuarkanlah aku untuk bisa percaya pada sesamaku dan padaMu. Amin.
Kembali ke kamar tidur, saya tidak lagi belajar tetapi membuat sebuah kesimpulan berikut: Saat kita tak berdaya, termasuk tak mengerti sesuatu apapun, kita hanya bisa berserah diri pada Tuhan. Namun berserah bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Tapi sejenak mengheningkan diri, lalu memulai sesuatu secara baru, dan dapat memahami secara baru yang tidak saya pahami. Benar...ketika bangun pagi....sebelum berangkat misa pagi...saya mulai memahami (meski tidak semuanya jelas) apa yang kupelajari semalam selama 2,5 jam.
Kita, paling kurang saya sendiri, seringkali memaksakan diri untuk memahami segala sesuatu. Padahal kemampuan manusiawi kita terbatas, kesanggupan budi ada masanya. Kekuatan manusiawi ada akhirnya. Pengalaman saya di atas mengajarkan saya untuk lebih rendah hati dan terbuka di hadapan Allah, bahwa tidak semua hal bisa dipahami dalam waktu sekejep. Bagaimanapun pintar dan hebatnya seseorang, ia juga mengalami keterbatasan. Sejago-jagonya seorang petinju kelas dunia, toh akan tiba masanya dia mengalami kejatuhan, kedigdayaan akan diganti dengan kekalahan, keperkasaan akan diganti dengan kelelahan dan kelemahan baik jiwa maupun raganya. Atau, sehebat-hebatnya seorang Ronaldo dan Ronaldinho menggocek dan menceploskan bola di gawang lawan, akan tiba masanya, mereka tidak bisa menceploskan bola ke gawang lawan.
Dalam keterbatasan manusiawi, kita semesetinya terbuka pada kehendak Allah sendiri. Dan....biarlah keterbatasan itu dilengkapi oleh Allah sendiri. Ia akan senantiasa mengisi ketebatasan kita, asalkan kita senantiasa juga siap membuka hati dan siap menerima Dia, kapan dan dimana saja.
Ya Tuhan, kadang aku terlalu mengandalkan budi
untuk beriman padaMu.
Padahal, yang Engkau tuntut adalah hati
yang senantiasa menaruh harapan padaMu.
Tuhan, bantulah aku agar mampu
menggunakan akal budiku secara baik dan bertanggungjawab
juga dalam menyatakan kesetiaanku kepadaMu.
“Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya,
orang berpengertian berkepala dingin.
Orang bodoh akan disangka bijak,
kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian
kalau ia mengatupkan bibirnya”
(Ams 17:27-28)
“Tidak ada seorangpun yang berakal budi,
tidak ada seorangpun yang mencari Allah” (Rm 3:12)
