Doa Yang Jujur
“Doa lebih banyak menuntut hati daripada lidah” (Adam Clarke)
“Doa lebih banyak menuntut hati daripada lidah” (Adam Clarke)
Pada suatu kesempatan seorang adik kelas bertanya pada saya, “Kak, tadi pagi sudah ke Gereja?” “Sudah”, jawab saya. Malah, tadi waktu mau berangkat kuliah, saya lewat di depan gereja, jawabku lebih lanjut. “Bukan itu maksudku, Kak Alfred,” “Apa tadi pagi kak sudah ikut misa?” jelasnya. “Oh...itu toh maksudmu?” “Belum, eh tidak.” “Wah payah, katanya mau jadi calon pastor, kok malas sekali ikut perayaan ekaristi,” jelasnya seakan-akan mengejekku.
“Betul, dik, menjadi pastor itu memang harus rajin berdoa/misa. Karena tugas utamanya nanti adalah membuat misa. Tetapi saya harus jujur pada diri saya sendiri bahwa orang (saya) melakukan sesuatu harus bertolak dari kesadaran hatinya yang mendalam, bukan hanya demi rutinitas atau demi credit point sebagai seorang calon imam. Saya memang tidak ada persiapan untuk misa. Maka lebih baik saya tidak ikut. Percuma raga saya hadir dalam misa tapi roh dan hati saya tidak di sana,” kata saya memberikan alasan tidak ikut misa.
Segala sesuatu memang bisa saya lakukan. Tapi apakah itu dilakukan dengan sepenuh hati atau sekadar saja demi tuntutan rutinitas dan tuntutan sebagai calon pastor maka harus ikut misa. Pemahaman semacam ini kadang menjadi justifikasi diri agar kalau tidak siap maka tidak harus ikut, atau demi suatu rutinitas maka apapun keadaanku, maka aku harus menjalaninya meski tanpa makna berarti bagi hidupku.
Doa adalah ungkapan relasi mendalam seseorang dengan Tuhan yang diyakininya. Dan tingkat kemendalaman itu bagi setiap orang berbeda-beda. Sekali lagi, doa menuntut kualitas relasi, bukan kuantitas tanpa makna. Bagaimana kita menentukan kualitas relasi itu? Setiap orang punya dinamika dan disposisi batin yang berbeda, hanya dia sendiri yang tahu kualitas relasinya dengan Allah. Maka sekalipun doa itu dijalankan dalam kebersamaan, seperti perayaan ekaristi, toh...kita sendirilah yang tahu mutu kedalaman relasi kita dengan Allah.
Ya Tuhan, betapa dunia ini penuh dengan tipu muslihat
dan aku seringkali jatuh dalam dunia yang demikian.
Bantulah aku untuk senantiasa berani melawan
segala tipu muslihat,
segala tawaran menggiurkan dari dunia ini
dan sepenuhnya percaya padaMu
sepenuhnya jujur padaMu
sepenuhnya menjadi milikMu.
“TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” (1Sam 1:11)
